Rabu, 04 Desember 2013

Responding Analisis Gender



Responding Paper 1 Kelompok Tambahan
ANALISIS GENDER
a.    Definisi dan Konsep Analisis Gender
Analisis Gender adalah suatu alat analisis atau konsep yang digunakan  untuk mengenali adanya ketidak adilan dibalik perbedaan relasi sosial laki-laki dan perempuan, seperti diskriminasi, subordinasi, marginalisasi, violence, double burden.[1] Dari sini kita dapat pahami apa saja yang menjadi analysis gender.
Focus analisis gender adalah relasi sosial antara laki-laki dan perempuan, terutama pada ketidakadilan struktur dan system dalam gender. Konsep ini adalah upaya untuk mengenali adanya ketidakadilan dibalik perbedaan relasi sosial laki-laki dan perempuan baik dalam sosial, budaya, pendidikan, dan ekonomi yang terjadi di masyarakat dari dahulu sampai kekinian.
Tujuan Analisis Gender.
1.      Tujuan Umum.
Tujuan umum analisis gender adalah untuk menyusun kebijakan program dan kegiatan pembangunan dengan memperhitungkan situasi dan kondisikan kebutuhan-kebutuhan gender.
2.      Tujuan Khusus;
Memahami pengertian menganalisis posisi perempuan dan laki-laki :
Ø  Memahami pengertian analisis
Ø  Memahami tujuan analisis
Ø  Memahami langkah-langkah analisis gender
Ø  Memahami teknik analisis gender
Ø  Mampu melakukan analisis gender.
b.   Ruang Lingkup Analisis Gender
Dalam pemahaman kita terhadap gender, adanya analisi gender sangat bermanfaat dalam pembentukan pola pikir kita terhadap gender selama ini. maka dari itu sangat penting bagi kita untuk lebih mengetahui ruang lingkup analaisi gender itu sendiri. Analisis Gender ini dapat digunakan untuk menganalisis dalam perencanaan, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi kebijakan program dan kegiatan dalam berbagai aspek pembangunan. Sehingga dalam relitasnya gender sudah mampu untuk membuktikan  diri bahwa jika relasi peremuan dan laki-laki bisa disandingkan bersama dalam pembangunan negara. 
c.    Model-Model Analisis Gender
Dalam Analisis Gender, ada beberapa model yang pernah dikembangkan oleh para ahli, yaitu:
1. Model Harvard
Kerangka Analisis Harvard disebut juga sebagai kernagka analisis peran gender, adalah kerangka yang dikembangkan oleh Harvard Institute for Internasional Development, bekerjasama dengan kantor Women In Development (WID)-USAID dan dipublikasikan tahun 1985.[2] Model Harvard didasarkan pada pendekatan efisiensi WID yang merupakan kerangka analisis gender dan perecanaan gender yang paling awal.
Tujuan dari kerangka analisis gender ini adalah untuk menunjukkan bahwa ada persoalan ekonomi dalam alokasi sumberdaya baik bagi perempuan maupun laki-laki. Alat ini dapat membantu perencana program untuk mendesain program atau proyek lebih efisien dan meningkatkan produktivitas secara keseluruhan.
Sebagai konsep dan alat, ini dibutuhkan data detail bagi perencanaan gender. Implikasi perencanaan program terhadap gender perempuan adalah diperlukan analisis yang menutupi bolong (gaps) pada level beban kerja, pengambilan keputusan dan hal lainnya antara perempuan dan laki-laki.
Tiga data set utama yang diperlukan:
1. Siapa melakukan apa, kapan, di mana, dan berapa banyak alokasi waktu yang diperlukan? Hal ini dikenal sebagai “Profil Aktifitas”. 

2. Siapa yang memiliki akses dan kontrol (seperti pembuatan kebijakan) atas sumber daya tertentu? Hal ini kerap dikenal dengan “Profil Akses dan Kontrol” Siapa yang memeliki akses dan kontrol atas “benefit” seperti produksi pangan, uang dsb?  
3. Faktor yang mempengaruhi perbedaan dalam pembagian kerja berbasis gender, serta akses dan kontrol yang ada pada “profil aktifitas” dan “profil akses dan kontrol”. 

Tujuan dari alat analisis ini adalah:
  1. Membedah alokasi sumberdaya ekonomis terhadap laki-laki dan perempuan
  2. Membantu perencana proyek untuk lebih efisien dan meningkatan produtifitas secara keseluruhan
c.       Untuk menunjukkan bahwa ada suatu investasi secara ekonomi yang dilakukan oleh perempuan dan laki-laki secara rasional.
d.      Untuk membantu para perencana merancang proyek yang lebih efisien dan memperbaiki produktivitas kerja secara menyeluruh.
e.       mencari informasi yang lebih rinci sebagai dasar untuk mencapai tujuan efisiensi dengan tingkat keadilan gender yang optimal.
f.       Untuk memetakan pekerjaan laki-laki dan perempuan dalam masyarakat dan melihat faktor penyebab perbedaan.
2. Model Moser
Model Moser didasarkan pada pendapat bahwa perencanaan gender bersifat “teknis polities”, kerangka ini mengasumsikan adanya konflik dalam perencanaan dan proses transformasi serta mencirikan perencanaan sebagai suatu “debat”. Alat yang digunakan kerangka ini dalam perencanaan untuk semua tingkatan dari proyek sampai ke perencanaan daerah ada 6 (enam) yaitu :
a.       Alat Identifikasi Peranan Gender (Tri Peranan)
b.      Alat Penilaian Kebutuhan Gender
c.       Alat Pemisahan Kontrol atas Sumber Daya dan Pengambilan Keputusan dalam Rumah Tangga
d.      Alat Menyeimbangkan Peran
e.       Alat Matriks Kebijakan WID (Women In Development) dan GAD (Gender and Development)
f.       Alat melibatkan Perempuan, Organisasi Perepuan dalam Penyadaran Gender dalam Perencanaan Pembangunan.
Tiga alat utama Kerangka Moser
Alat 1: Peran lipat tiga (triple roles) Perempuan
A. Kerja reproduksi perempuan

B. Kerja Produktif

C. Kerja komunitas
Alat 2: Gender need assessment
A. Kebutuhan/kepentingan praktis

B. Kebutuhan/kepentingan strategis
Alat 3: Gender Disaggregated data  - intra-household

Siapa mengotrol apa dan siapa yang memiliki kekuasaan atas pengambilan keputusan?

Kekuatan/Keutamaan Kerangka Moser:
·         Mampu melihat kesenjangan perempuan dan laki-laki
·         Penekanan pada seluruh aspek kerja di mana membuat peranan ganda perempuan terlihat
·         Menekankan dan mempertanyakan asumsi dibalik proyek-2 intervensi
·         Penekanan pada perbedaan antara memenuhi kebutuhan dasar-praktis dengan kebutuhan strategis

Keterbatasan/Kelemahan Kerangka Moser:
·         Fokus pada perempuan dan laki-laki dan tidak pada relasi sosial
·         Tidak menekanakan aspek lain dari kesenjangan spt akses atas sumber daya
·         Jika ditanyakan, perempuan akan mengidentifikasikan kebutuhan praktisnya. Menemukan ukuran-2 kebutuhan strategis sulit. Perubahan strategis adalah sebuah proses yang kompleks dan kontradiktif. Dalam prakteknya, sesuatu yang praktis dan strategis berkaitan erat.
·         Pendekatan kebijakan yang berbeda-2 bercampur dalam prakteknya
·         Kerja secara efektif lebih berfungsi sebagai alat analisis intervensi ketimbang perencanaan.
3. Model SWOT (Strengthen, Weakness, Oppurtunity and Threat)
Teknik ini merupakan suatu analisis manajemen dengan cara mengidentifikasi secara internal mengenai kekuatan dan kelemahan dan secara eksternal mengenai peluang dan ancaman. Aspek nternal dan Eksternal tersebut dipertimbangkan dalam kaitan dengan konsep strategis dalam rangka menyusun program aksi, langkah-langkah/tindakan untuk mencapai sasaran maupun tujuan kegiatan dengan cara memaksimalkan kekuatan dan peluang, serta meminimalkan kelemahan dan ancaman sehingga dapat mengurangi resiko dan dapat meningkakan efektivitas dan efisiensi pelaksanaan.
1.        Model Longwe Framework – Kerangka Kerja ”Pemberdayaan”
Kerangka Longwe berfokus langsung pada penciptaan situasi/pengkondisian di mana masalah kesenjangan, diskriminasi dan subordinasi diselesaikan. Longwe menciptakan jalan untuk mencapai tingkat pemberdayaan dan kesederajatan (equality) di mana ditunjukan bahwa pemenuhan kebutuhan dasar-praktis perempuan tidak pernah sama dengan, pemberdayaan maupun sederajat (equal). Pengambilan keputusan (kontrol) merupakan puncak dari pemberdayaan dan kesederajatan (equality). Table 4 memberikan gambaran jelas mengenai hal ini.
Dalam assessment proyek, kerangka Longwe bisa diturunkan menjadi dua alat:
1.      Level kesederajatan (Equality level)
Tujuan utama alat ini adalah untuk menilai apakah sebuah proyek/program intervensi pembangunan mampu mempromosikan kesederajatan dan pemberdayaan perempuan atau tidak. Asumsi dasar dibalik alat ini adalah bahwa titik tercapainya kesederajatan (equality) antara perempuan dan laki-laki mengindikasikan level pemberdayaan perempuan. Ada lima level dalam aras kesederajatan dan pemberdayaan yang perlu dicermati:


Equality
Pemberdayaan
Perempuan
Laki-laki
perempuan
Laki-laki
Kontrol (decision Making)













Partisipasi

Kesadaran Kritis (conscienticicao)
Akses

Welfare (kebutuhan dasar-praktis)
Anak panah di atas menunjukan arah peningkatan menuju pemberdayaan dan equality.
2.      Isu Spesifik Perempuan – dengan tujuan pada pengenalan akan kebutuhan spesifik perempuan. Asumsi utamanya adalah bahwa semua isu perempuan berkaitan dengan equality dalm peran sosial dan ekonomis. Tiga level pengenalan atas isu perempuan di dalam proyek adalah NEGATIF, NETRAL & POSITIF.

Dari penjelasan ke empat model analisis gender tersebut, masing-masing memiliki keunggulan dan kelemahannnya. Namun dibalik itu semua pemakalah telah cukup menjelaskan dalam makalah mengenai cara dan teknik analisis gender dalam empat model analisis ini. Dapatlah kita ketahui model-model analisis gender ini sangat membantu para peneliti gender dalam menemukan teori baru mengenai gender.




 
 


[1]  Tim Penulis Pusat Studi Wanita, Pengantar Kajian Gender (Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah, 2003), hlm. 159
[2] Dr. Ir. Herien Puspitawati, Makalah Seminar: Analisis Gender dalam PEnelitian Bidang Ilmu Keluarga (Bogor: 2009), h. 3

Tidak ada komentar:

Posting Komentar