Responding Paper 1 Kelompok Tambahan
ANALISIS GENDER
a.
Definisi dan Konsep Analisis Gender
Analisis
Gender adalah suatu alat analisis atau konsep yang digunakan untuk mengenali adanya ketidak adilan dibalik
perbedaan relasi sosial laki-laki dan perempuan, seperti diskriminasi,
subordinasi, marginalisasi, violence, double burden.[1]
Dari sini kita dapat pahami apa saja yang menjadi analysis gender.
Focus
analisis gender adalah relasi sosial antara laki-laki dan perempuan, terutama
pada ketidakadilan struktur dan system dalam gender. Konsep ini adalah upaya
untuk mengenali adanya ketidakadilan dibalik perbedaan relasi sosial laki-laki
dan perempuan baik dalam sosial, budaya, pendidikan, dan ekonomi yang terjadi
di masyarakat dari dahulu sampai kekinian.
Tujuan
Analisis Gender.
1. Tujuan Umum.
Tujuan
umum analisis gender adalah untuk menyusun kebijakan program dan kegiatan
pembangunan dengan memperhitungkan situasi dan kondisikan kebutuhan-kebutuhan
gender.
2. Tujuan Khusus;
Memahami
pengertian menganalisis posisi perempuan dan laki-laki :
Ø Memahami pengertian analisis
Ø Memahami tujuan analisis
Ø Memahami langkah-langkah analisis gender
Ø Memahami teknik analisis gender
Ø Mampu melakukan analisis gender.
b.
Ruang
Lingkup Analisis Gender
Dalam
pemahaman kita terhadap gender, adanya analisi gender sangat bermanfaat dalam
pembentukan pola pikir kita terhadap gender selama ini. maka dari itu sangat
penting bagi kita untuk lebih mengetahui ruang lingkup analaisi gender itu
sendiri. Analisis Gender ini dapat digunakan untuk menganalisis dalam
perencanaan, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi kebijakan program dan
kegiatan dalam berbagai aspek pembangunan. Sehingga dalam relitasnya gender
sudah mampu untuk membuktikan diri bahwa
jika relasi peremuan dan laki-laki bisa disandingkan bersama dalam pembangunan
negara.
c.
Model-Model Analisis Gender
Dalam
Analisis Gender, ada beberapa model yang pernah dikembangkan oleh para ahli,
yaitu:
1.
Model Harvard
Kerangka
Analisis Harvard disebut juga sebagai kernagka analisis peran gender, adalah
kerangka yang dikembangkan oleh Harvard Institute for Internasional
Development, bekerjasama dengan kantor Women In Development (WID)-USAID dan
dipublikasikan tahun 1985.[2]
Model Harvard didasarkan pada pendekatan efisiensi WID yang merupakan kerangka
analisis gender dan perecanaan gender yang paling awal.
Tujuan
dari kerangka analisis gender ini adalah untuk menunjukkan bahwa ada persoalan
ekonomi dalam alokasi sumberdaya baik bagi perempuan maupun laki-laki. Alat ini
dapat membantu perencana program untuk mendesain program atau proyek lebih
efisien dan meningkatkan produktivitas secara keseluruhan.
Sebagai
konsep dan alat, ini dibutuhkan data detail bagi perencanaan gender. Implikasi
perencanaan program terhadap gender perempuan adalah diperlukan analisis yang
menutupi bolong (gaps) pada level beban kerja, pengambilan keputusan dan hal
lainnya antara perempuan dan laki-laki.
Tiga data set utama yang diperlukan:
1. Siapa melakukan apa, kapan,
di mana, dan berapa banyak alokasi waktu yang diperlukan? Hal ini dikenal
sebagai “Profil Aktifitas”. 2. Siapa yang memiliki akses dan kontrol (seperti pembuatan kebijakan) atas sumber daya tertentu? Hal ini kerap dikenal dengan “Profil Akses dan Kontrol” Siapa yang memeliki akses dan kontrol atas “benefit” seperti produksi pangan, uang dsb?
3. Faktor yang mempengaruhi perbedaan dalam pembagian
kerja berbasis gender, serta akses dan kontrol yang ada pada “profil
aktifitas” dan “profil akses dan kontrol”.
Tujuan dari alat analisis ini adalah:
- Membedah alokasi sumberdaya ekonomis terhadap laki-laki dan perempuan
- Membantu perencana proyek untuk lebih efisien dan meningkatan produtifitas secara keseluruhan
c. Untuk menunjukkan bahwa ada suatu
investasi secara ekonomi yang dilakukan oleh perempuan dan laki-laki secara
rasional.
d. Untuk membantu para perencana merancang
proyek yang lebih efisien dan memperbaiki produktivitas kerja secara
menyeluruh.
e. mencari informasi yang lebih rinci
sebagai dasar untuk mencapai tujuan efisiensi dengan tingkat keadilan gender
yang optimal.
f. Untuk memetakan pekerjaan laki-laki dan
perempuan dalam masyarakat dan melihat faktor penyebab perbedaan.
2.
Model Moser
Model
Moser didasarkan pada pendapat bahwa perencanaan gender bersifat “teknis
polities”, kerangka ini mengasumsikan adanya konflik dalam perencanaan dan
proses transformasi serta mencirikan perencanaan sebagai suatu “debat”. Alat
yang digunakan kerangka ini dalam perencanaan untuk semua tingkatan dari proyek
sampai ke perencanaan daerah ada 6 (enam) yaitu :
a. Alat Identifikasi Peranan Gender (Tri
Peranan)
b. Alat Penilaian Kebutuhan Gender
c. Alat Pemisahan Kontrol atas Sumber Daya
dan Pengambilan Keputusan dalam Rumah Tangga
d. Alat Menyeimbangkan Peran
e. Alat Matriks Kebijakan WID (Women In
Development) dan GAD (Gender and Development)
f. Alat melibatkan Perempuan, Organisasi
Perepuan dalam Penyadaran Gender dalam Perencanaan Pembangunan.
Tiga alat utama Kerangka Moser
Alat 1: Peran lipat tiga (triple roles) Perempuan
|
A.
Kerja reproduksi perempuan
|
B.
Kerja Produktif
|
|
C.
Kerja komunitas
|
|
Alat
2: Gender need assessment
|
A.
Kebutuhan/kepentingan praktis
|
B.
Kebutuhan/kepentingan strategis
|
|
Alat 3: Gender
Disaggregated data - intra-household
|
Siapa
mengotrol apa dan siapa yang memiliki kekuasaan atas pengambilan keputusan?
|
Kekuatan/Keutamaan Kerangka Moser:
·
Mampu melihat kesenjangan perempuan dan laki-laki
·
Penekanan pada seluruh aspek kerja di mana membuat
peranan ganda perempuan terlihat
·
Menekankan dan mempertanyakan asumsi dibalik proyek-2
intervensi
·
Penekanan pada perbedaan antara memenuhi kebutuhan
dasar-praktis dengan kebutuhan strategis
Keterbatasan/Kelemahan Kerangka Moser:
·
Fokus pada perempuan dan laki-laki dan tidak pada relasi
sosial
·
Tidak menekanakan aspek lain dari kesenjangan spt akses
atas sumber daya
·
Jika ditanyakan, perempuan akan mengidentifikasikan
kebutuhan praktisnya. Menemukan ukuran-2 kebutuhan strategis sulit. Perubahan
strategis adalah sebuah proses yang kompleks dan kontradiktif. Dalam
prakteknya, sesuatu yang praktis dan strategis berkaitan erat.
·
Pendekatan kebijakan yang berbeda-2 bercampur dalam
prakteknya
·
Kerja secara efektif lebih berfungsi sebagai alat
analisis intervensi ketimbang perencanaan.
3.
Model SWOT (Strengthen, Weakness, Oppurtunity and Threat)
Teknik
ini merupakan suatu analisis manajemen dengan cara mengidentifikasi secara
internal mengenai kekuatan dan kelemahan dan secara eksternal mengenai peluang
dan ancaman. Aspek nternal dan Eksternal tersebut dipertimbangkan dalam kaitan
dengan konsep strategis dalam rangka menyusun program aksi,
langkah-langkah/tindakan untuk mencapai sasaran maupun tujuan kegiatan dengan
cara memaksimalkan kekuatan dan peluang, serta meminimalkan kelemahan dan
ancaman sehingga dapat mengurangi resiko dan dapat meningkakan efektivitas dan
efisiensi pelaksanaan.
1.
Model Longwe Framework – Kerangka Kerja ”Pemberdayaan”
Kerangka Longwe berfokus langsung pada penciptaan
situasi/pengkondisian di mana masalah kesenjangan, diskriminasi dan subordinasi
diselesaikan. Longwe menciptakan jalan untuk mencapai tingkat pemberdayaan dan
kesederajatan (equality) di mana
ditunjukan bahwa pemenuhan kebutuhan dasar-praktis perempuan tidak pernah sama
dengan, pemberdayaan maupun sederajat (equal).
Pengambilan keputusan (kontrol) merupakan puncak dari pemberdayaan dan
kesederajatan (equality). Table 4
memberikan gambaran jelas mengenai hal ini.
Dalam assessment proyek, kerangka Longwe bisa diturunkan
menjadi dua alat:
1.
Level kesederajatan (Equality level)
Tujuan utama alat ini adalah untuk menilai apakah sebuah
proyek/program intervensi pembangunan mampu mempromosikan kesederajatan dan
pemberdayaan perempuan atau tidak. Asumsi dasar dibalik alat ini adalah bahwa
titik tercapainya kesederajatan (equality) antara perempuan dan laki-laki
mengindikasikan level pemberdayaan perempuan. Ada lima level dalam aras
kesederajatan dan pemberdayaan yang perlu dicermati:
Equality
|
Pemberdayaan
|
|||
Perempuan
|
Laki-laki
|
perempuan
|
Laki-laki
|
|
Kontrol (decision Making)
|
||||
Partisipasi
|
||||
Kesadaran Kritis (conscienticicao)
|
||||
Akses
|
||||
Welfare (kebutuhan dasar-praktis)
|
||||
Anak panah di atas menunjukan arah peningkatan menuju pemberdayaan dan
equality.
2. Isu Spesifik Perempuan – dengan tujuan pada pengenalan
akan kebutuhan spesifik perempuan. Asumsi utamanya adalah bahwa semua isu
perempuan berkaitan dengan equality dalm peran sosial dan ekonomis. Tiga
level pengenalan atas isu perempuan di dalam proyek adalah NEGATIF, NETRAL
& POSITIF.
Dari penjelasan ke empat model
analisis gender tersebut, masing-masing memiliki keunggulan dan kelemahannnya.
Namun dibalik itu semua pemakalah telah cukup menjelaskan dalam makalah
mengenai cara dan teknik analisis gender dalam empat model analisis ini.
Dapatlah kita ketahui model-model analisis gender ini sangat membantu para
peneliti gender dalam menemukan teori baru mengenai gender.
[1] Tim Penulis Pusat Studi Wanita, Pengantar
Kajian Gender (Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah, 2003), hlm. 159
[2] Dr. Ir. Herien
Puspitawati, Makalah Seminar: Analisis Gender dalam PEnelitian Bidang Ilmu
Keluarga (Bogor: 2009), h. 3
Tidak ada komentar:
Posting Komentar