Rabu, 04 Desember 2013

Perempuan dalam Kajian Media



Responding Paper Kelompok Tambahan
PEREMPUAN DALAM KAJIAN MEDIA
Siti Fatimah
Media adalah suatu sudut pandang lain tentang persoalan social, budaya, ekonomi ataupun perindustrian yang dipublikasikan melalui surat kabar, televisi, radio, maupun media lainnya. Media adalah alat untuk mengetahui informasi-informasi terkini seputar kehidupan social, ekonomi, politik dan lain-lain tentang hal-hal yang dianggap perlu dan menarik untuk dipublikasikan. Namun disini tidak akan membahas itu semua. Dalam presentasi pemakalah tentang Perempuan dalam Kajian Media tidak menjelaskan konstruksi pemahaman media terhadap gender. Berangkat dari hal itu, penulis akan mencoba menjelaskan sedikit konstruksi pemahaman media terhadap gender.
a.      Konstruksi Kesadaran Indentitas Perempuan  dalam  Majalah
Pemahaman kita akan peran perempuan dalam kehidupan sehari-hari tidak akan lepas dari persoalan kerumahtanggan. Peran perempuan pun seolah telah terkonstruksi dalam  kehidupan domestic saja, sehingga dalam majalah, tabloid maupun koran yang ditampilkan hanya seputar kebutuhan permpuan dalam peralatan rumah tangga, kecantikan, kerapihan rumah tangganya serta hal lainnya yang berkaitan erat dengan peran perempuan dalam rumah tangga. Sebut saja isi dalam majalah Kartini, yang berisi tentang bagaimana cara permpuan mengurus rumah tangganya dengan baik, menjadi isteri dan ibu yang baik dalam keluarga, serta berisi resep-resep masakan terkini.
Dari hal-hal seperti ini sangat terlihat sekali bahwa media ini sangatlah bias gender. Padahal kita tahu juga bahwa ada majalah atau surat kabar yang khusus laki-laki tapi tidak pernah memaparkan bagaimana menjadi seorang ayah atau suami yang baik. Di majalah atau surat kabar khusus laki-laki, terkadang hanya membahas masalah ekonomi, politik, otomotif, sport dan yang paling bias gender adalah majalah dewasa yang mempertontonkan para model perempuan mengenakan baju minim. Pada “majalah pria dewasa” perempuan seolah sebagai objek pasif yang boleh dipertontonkan setiap bagian tubuhnya sebagai pemuas hasrat kaum laki-laki yang membaca atau melihat majalah tersebut. Kemudian nantinya model perempuan tersebut akan dianggap negative oleh masyarakat (kaum perempuan lainnya) dalam kehidupannya bahkan terkadang dilecehkan oleh kaum laki-laki yang mengetahui profesi model perempuan ini.
Hal ini berbanding terbalik dengan bahan bacaan majalah yang diperuntukkan untuk kaum perempuan. Selanjutnya yang saya herankan adalah apakah memang perempuan sendiri tidak berhak untuk menjadi subjek aktif seperti kaum laki-laki. Dimana perempuan diperbolehkan dengan kehendak hatinya untuk hidup dalam profesi  yang dia inginkan.
Menurut Tuchman, media menurutnya mencerminkan nilai-nilai dominan masyarakat dalam bentuk pelbagai citra atau representasi. Karenanya, analisis isi mengungkapkan adanya dominasi citra tradisional dan stereotipikal mengenai perempuan  dalam seluruh bentuk media. Selanjutnya media bertindak sebagai agen sosialisasi, yang menyampaikan pelbagai citra mengenai peran jenis kelamin yang distereotipkan, khususnya kepada orang-orang muda. [1]
b.      Konstruksi Kesadaran Indentitas Perempuan  dalam  Iklan
Seringkali kita temui dalam iklan-iklan di televisi, radio, maupun surat kabar lainnya, yang akan dijadikan model utama adalah perempuan, meskipun produk yang akan ditawarkan adalah untuk laki-laki, tapi pasti akan ditampilkan pula model perempuan. Entah itu hanya sekedar suara ataupun ditampilkannya model perempuan itu.
Perempuan dalam iklan seolah menjadi penghias yang menampilkan keindahan dalam setiap pembuatan iklan. Citra perempuan selalu mencerminkan makna yang bersumber lain dalam arti bahwa citra perempuan tergantung dari para produsen produk atau struktur social yang sudah membentuk perempuan dengan sifat sebagai perempuan pada umumnya yang sudah terbentuk sejak dahulu.
Kesalahpahaman para produsen iklan yang umum terjadi adalah melihat berbagai citra perempuan melulu sebagai suatu cerminan yang baik atau buruk, dan membandingkan citra yang buruk mengenai perempuan (tampilan perempuan dalam foto-foto majalah, iklan fashion dan sebagainya) dengan citra yang baik mengenai perempuan (foto-realis, tentnag perempuan yang bekerja, ibu rumah tangga, perempuan tua dan lain-lain). Konsepsi ini mestilah kita tentang dan digantikan oleh pengertian perempuan sebagai tanda dalam wacana ideologis.[2]
Reperesentasi para produsen iklan terhadap perempuan telah menjeneralisir semua sub-sub dari kebutuhan perempuan, sehingga iklan yang ditampilkan pun kebanyakan hanya untuk kaum perempuan saja. Iklan atau produk iklan yang dikonsumsi untuk laki-laki, ternyata masih sangat kurang sekali ditampilkan di dalam iklan-iklan produk. Entah karena tubuh laki-laki tidak memiliki keindahan untuk ditampilkan atau mungkin karena model laki-laki masih sangat sedikit.
c.       Konstruksi Kesadaran Indentitas Perempuan  dalam  Film/ Sinetron
Dalam film, peran perempuan terkadang hanya mengambil gambar bagian-bagian tertentu yang membuat peran perempuan itu terlihat cantik.  Film-film perempuan  seolah sebagai mereduksi perempuan menjadi sebuah simbol yang dapat digunakan untuk memuaskan nketakutan dan hasrat patriarkal yang berpusat pada yang feminine, tetapi bukan dilihat dari keseluruhan ceritanya.[3]
Film perempuan berperan sebagai produk sekaligus sumber dari apa yang disebut sebagai negosiasi budaya, negosiasi antara berbagai kerangka acauan dan pengalaman yang berbeda dan saling bersaing. Pendapat lain menyebutkan bahwa film-film perempuan itu benar-benar mengungkapkan berbagai kontradiksi dan ketidakstabilan internal. Pada satu sisi, film-film perempuan mengasumsikan suatu identifikasi berlebihan oleh penonton perempuan dengan citra di layar. Berbeda dengan film laki-laki, tatapan perempuan diasumsikan menyertakan kepasifan dan keterlibatan berlebihan alih-alih menciptakan jarak yang diperlukan, sedemikian rupa sehingga penonton perempuan diundang untuk mengalami bukan hasrat terhadap, tetapi penderitaan bersama tokoh-tokoh yang ada dalam layar.  Sementara itu, pada sisi lain, karena narasi-narasi film perempuan ini dipusatkan pada tokoh utama perempuan, ia harus diarahkan oleh suatu pandangan, keinginan, dan aktivitas perempuan.[4]
Dari sini kita dapat menilai bahwa citra perempuan dalam film tidak jauh berbeda dengan yang ada dalam realitas kehidupan perempuan-perempuan kita umumnya.
Daftar Pustaka
Stevi Jackson dan Jackie Jones, Pengantar Teori-teori Feminis
 Kontemporer, Yogyakarta: Jalasutra, 2009.


[1] Stevi Jackson dan Jackie Jones, Pengantar Teori-teori Feminis Kontemporer (Yogyakarta: Jalasutra, 2009), hlm. 365
[2] Stevi Jackson dan Jackie Jones, Pengantar Teori-teori Feminis Kontemporer, hlm. 366
[3] Stevi Jackson dan Jackie Jones, Pengantar Teori-teori Feminis Kontemporer, hlm. 376
[4] Stevi Jackson dan Jackie Jones, Pengantar Teori-teori Feminis Kontemporer, hlm. 374

Tidak ada komentar:

Posting Komentar