Responding Paper Kelompok Tambahan
PEREMPUAN DALAM KAJIAN MEDIA
Siti Fatimah
Media adalah suatu sudut pandang lain tentang persoalan social, budaya,
ekonomi ataupun perindustrian yang dipublikasikan melalui surat kabar, televisi,
radio, maupun media lainnya. Media adalah alat untuk mengetahui
informasi-informasi terkini seputar kehidupan social, ekonomi, politik dan
lain-lain tentang hal-hal yang dianggap perlu dan menarik untuk dipublikasikan.
Namun disini tidak akan membahas itu semua. Dalam presentasi pemakalah tentang
Perempuan dalam Kajian Media tidak menjelaskan konstruksi pemahaman media
terhadap gender. Berangkat dari hal itu, penulis akan mencoba menjelaskan
sedikit konstruksi pemahaman media terhadap gender.
a.
Konstruksi Kesadaran Indentitas Perempuan dalam
Majalah
Pemahaman kita
akan peran perempuan dalam kehidupan sehari-hari tidak akan lepas dari
persoalan kerumahtanggan. Peran perempuan pun seolah telah terkonstruksi dalam kehidupan domestic saja, sehingga dalam
majalah, tabloid maupun koran yang ditampilkan hanya seputar kebutuhan permpuan
dalam peralatan rumah tangga, kecantikan, kerapihan rumah tangganya serta hal
lainnya yang berkaitan erat dengan peran perempuan dalam rumah tangga. Sebut
saja isi dalam majalah Kartini, yang berisi tentang bagaimana cara permpuan
mengurus rumah tangganya dengan baik, menjadi isteri dan ibu yang baik dalam
keluarga, serta berisi resep-resep masakan terkini.
Dari hal-hal
seperti ini sangat terlihat sekali bahwa media ini sangatlah bias gender.
Padahal kita tahu juga bahwa ada majalah atau surat kabar yang khusus laki-laki
tapi tidak pernah memaparkan bagaimana menjadi seorang ayah atau suami yang
baik. Di majalah atau surat kabar khusus laki-laki, terkadang hanya membahas
masalah ekonomi, politik, otomotif, sport dan yang paling bias gender adalah
majalah dewasa yang mempertontonkan para model perempuan mengenakan baju minim.
Pada “majalah pria dewasa” perempuan seolah sebagai objek pasif yang boleh
dipertontonkan setiap bagian tubuhnya sebagai pemuas hasrat kaum laki-laki yang
membaca atau melihat majalah tersebut. Kemudian nantinya model perempuan
tersebut akan dianggap negative oleh masyarakat (kaum perempuan lainnya) dalam
kehidupannya bahkan terkadang dilecehkan oleh kaum laki-laki yang mengetahui
profesi model perempuan ini.
Hal ini
berbanding terbalik dengan bahan bacaan majalah yang diperuntukkan untuk kaum
perempuan. Selanjutnya yang saya herankan adalah apakah memang perempuan sendiri
tidak berhak untuk menjadi subjek aktif seperti kaum laki-laki. Dimana
perempuan diperbolehkan dengan kehendak hatinya untuk hidup dalam profesi yang dia inginkan.
Menurut
Tuchman, media menurutnya mencerminkan nilai-nilai dominan masyarakat dalam
bentuk pelbagai citra atau representasi. Karenanya, analisis isi mengungkapkan
adanya dominasi citra tradisional dan stereotipikal mengenai perempuan dalam seluruh bentuk media. Selanjutnya media
bertindak sebagai agen sosialisasi, yang menyampaikan pelbagai citra mengenai
peran jenis kelamin yang distereotipkan, khususnya kepada orang-orang muda. [1]
b.
Konstruksi Kesadaran Indentitas Perempuan dalam
Iklan
Seringkali kita
temui dalam iklan-iklan di televisi, radio, maupun surat kabar lainnya, yang
akan dijadikan model utama adalah perempuan, meskipun produk yang akan
ditawarkan adalah untuk laki-laki, tapi pasti akan ditampilkan pula model
perempuan. Entah itu hanya sekedar suara ataupun ditampilkannya model perempuan
itu.
Perempuan dalam
iklan seolah menjadi penghias yang menampilkan keindahan dalam setiap pembuatan
iklan. Citra perempuan selalu mencerminkan makna yang bersumber lain dalam arti
bahwa citra perempuan tergantung dari para produsen produk atau struktur social
yang sudah membentuk perempuan dengan sifat sebagai perempuan pada umumnya yang
sudah terbentuk sejak dahulu.
Kesalahpahaman
para produsen iklan yang umum terjadi adalah melihat berbagai citra perempuan
melulu sebagai suatu cerminan yang baik atau buruk, dan membandingkan citra
yang buruk mengenai perempuan (tampilan perempuan dalam foto-foto majalah,
iklan fashion dan sebagainya) dengan citra yang baik mengenai perempuan (foto-realis,
tentnag perempuan yang bekerja, ibu rumah tangga, perempuan tua dan lain-lain).
Konsepsi ini mestilah kita tentang dan digantikan oleh pengertian perempuan
sebagai tanda dalam wacana ideologis.[2]
Reperesentasi
para produsen iklan terhadap perempuan telah menjeneralisir semua sub-sub dari
kebutuhan perempuan, sehingga iklan yang ditampilkan pun kebanyakan hanya untuk
kaum perempuan saja. Iklan atau produk iklan yang dikonsumsi untuk laki-laki,
ternyata masih sangat kurang sekali ditampilkan di dalam iklan-iklan produk.
Entah karena tubuh laki-laki tidak memiliki keindahan untuk ditampilkan atau
mungkin karena model laki-laki masih sangat sedikit.
c.
Konstruksi Kesadaran Indentitas Perempuan dalam
Film/ Sinetron
Dalam film, peran perempuan
terkadang hanya mengambil gambar bagian-bagian tertentu yang membuat peran
perempuan itu terlihat cantik. Film-film
perempuan seolah sebagai mereduksi
perempuan menjadi sebuah simbol yang dapat digunakan untuk memuaskan nketakutan
dan hasrat patriarkal yang berpusat pada yang feminine, tetapi bukan dilihat
dari keseluruhan ceritanya.[3]
Film perempuan berperan sebagai
produk sekaligus sumber dari apa yang disebut sebagai negosiasi budaya,
negosiasi antara berbagai kerangka acauan dan pengalaman yang berbeda dan
saling bersaing. Pendapat lain menyebutkan bahwa film-film perempuan itu
benar-benar mengungkapkan berbagai kontradiksi dan ketidakstabilan internal.
Pada satu sisi, film-film perempuan mengasumsikan suatu identifikasi berlebihan
oleh penonton perempuan dengan citra di layar. Berbeda dengan film laki-laki,
tatapan perempuan diasumsikan menyertakan kepasifan dan keterlibatan berlebihan
alih-alih menciptakan jarak yang diperlukan, sedemikian rupa sehingga penonton
perempuan diundang untuk mengalami bukan hasrat terhadap, tetapi penderitaan
bersama tokoh-tokoh yang ada dalam layar.
Sementara itu, pada sisi lain, karena narasi-narasi film perempuan ini
dipusatkan pada tokoh utama perempuan, ia harus diarahkan oleh suatu pandangan,
keinginan, dan aktivitas perempuan.[4]
Dari sini kita dapat menilai bahwa
citra perempuan dalam film tidak jauh berbeda dengan yang ada dalam realitas
kehidupan perempuan-perempuan kita umumnya.
Daftar Pustaka
Stevi Jackson dan Jackie Jones, Pengantar
Teori-teori Feminis
Kontemporer,
Yogyakarta: Jalasutra, 2009.
[1] Stevi Jackson dan
Jackie Jones, Pengantar Teori-teori Feminis Kontemporer (Yogyakarta:
Jalasutra, 2009), hlm. 365
Tidak ada komentar:
Posting Komentar