Nama: Siti
Fatimah
Dosen:
Siti Nadhroh, MA.
ISLAM DAN KESETARAAN GENDER
Gerakan Gender di Mesir, Iran dan Turki
Islam sebenarnya adalah agama yang sangat memuliakan perempuan
dibandingkan dengan agama-agama lain yang sangat memandang rendah kaum
perempuan. Perempuan selalu dinomerduakan setelah laki-laki, bahkan dalam
masyarakat jahiliyah perempuan selalu dianggap sebagai pembawa petaka,
sampai-sampai kelahirannya pun tidak pernah diinginkan oleh orangtuanya,
apalagi oleh pihak ayahnya. Namun setelah Islam datang dengan membawa cahaya
kebenaran dari Allah melalui Nabi Muhammad, kedudukan wanita sedikit lebih
dimuliakan. Walaupun kenyataanya dalam tradisi manapun perempuan posisinya
masih lebih rendah dari laki-laki.
Setelah zaman modern seperti sekarang pun perempuan di desa
dan sebagian perempuan kota masih dalam kedudukan nomor dua. Meskipun sekarang
ini kita sudah mengenal tentang emansipasi wanita atau kesetaraan gender, tapi
masih banyak perempuan yang dalam kondisi kejumudan dan kebodohan. Di dunia
Islam khususnya di Timur, masih banyak perempuan yang dilarang untuk berilmu.
Perempuan di Timur masih banyak yang tidak mengerti tentang emansipasi ataupun
mengerti tentang gender, mereka diperbodohkan dengan keadaan bahwa anak
laki-lakilah yang lebih berhak untuk berilmu lebih tinggi.
Padahal Islam dalam Al-Qur’an telah menyatakan bahwa “yang
paling mulia dihadapan Allah adalah hamba-Nya yang paling bertaqwa”. Hal ini mengindiksaikan
bahwa perempuan pun bisa memiliki kedudukan yang sama dihadapan Allah. Fisik
wanita sering dijadikan alasan bagi kaum laki-laki untuk menjadi alasan kenapa
wanita selalu dinomorduakan, fisik perempuan dianggap lebih lemah dibandingkan
fisik laki-laki. Terkadang juga dijadikan alasan bahwa seluruh fisik perempuan
adalah aurat kecuali telapak tangan dan wajahnya, sehingga laki-laki
beranggapan bahwa perempuan hanya diciptakan sebagai penggoda.
Negara Iran yang sedang berkembang, memegang kendali yang
kuat terhadap rakyatnya. Atas kepemimpinan dari Reza Shah Pahlevi, perempuan
mendapatkan tempat yang cukup berpengaruh. Misalnya saja dalam aturan
berkerudung, perempuan diperbolehkan tidak memakai kerudung meskipun ia berada
ditempat umum. Selain itu perempuan juga dibebaskan dalam memperoleh pekerjaan
diluar rumah, seperti menjadi karyawan, pengusaha, direktur, pengacara, anggota
parlemen bahkan menjadi seorang hakim. Perempuan diperbolehkan untuk menuntut
ilmu sampai kejenjang bangku kuliah. Reza Shah ingin agar perempuan di Iran
bisa berkembang dan juga turut berperan memajukan perkembangan negaranya, maka
dari itu perempuan haruslah pintar bila ingin disejajarkan dengan laki-laki
dalam berilmu pengetahuan. Banyaknya kebijakan-kebijakan yang sudah
mensejajarkan kedudukan perempuan dengan laki-laki membuat banyaknya perempuan
terpelajar, meskipun itu masih dalam taraf kalangan menengah ke atas. Sedangkan
kalangan mengenah ke bawah masih terkungkung dalam hijab patriarkhi para mullah.[1]
Namun selain dari kebijakan-kebijakan Pahlevi yang membela perempuan, justru
perempuan-perempuan terpelajar ini terus berpikir tentnag kekejaman yang
dilakukan Pahlevi terhadap rakyat. Sebagai pemimpin ia tidak ingin kedudukannya
digantikan, maka dari itu ia selalu berusaha untuk mengawasi ekonomi negaranya
sendiri, bahkan ia tergolong memperkaya diri sendiri. Inilah yang membuat para
perempuan terpelajar yang dulunya dibantu Pahlevi untuk mendapat pendidikan
yang tinggi, kini menentang kekejaman Pahlevi terhadap rakyatnya. Disisi
lain para Mullah ingin agar
perempuan kembali pada kepatuhannya pada tradisi patriarchal. Hal inilah yang
kemudian mendorong para Mullah untuk menentang Pahlevi. Bersama
Khomaeni, mereka terus mengecam Pahlevi dan membuat slogan-slogan untuk kembali
kepada ajaran Islam, yang menurut mereka perempuan tidak boleh disetarakan
dengan laki-laki sehebat apapun dan sekuat apapun ia. Khomaeni terus saja
mengecam Pahlevi untuk turun dari jabatannya, sampai akhirnya hal itu pun
terwujud dengan terbunuhnya Pahlevi dalam pembunuhan yang telah direncanakan.[2]
Saat Khomaeni berhasil menduduki tampuk kekuasaan di Iran,
kondisi perempuan mengenai hak-hak dan kewajibannya mengalami kemunduran.
Kebijakan yang dulu dibuat Pahlevi terhadap perempuan banyak yang dihilangkan,
sehingga banyak perempuan yang dipecat dari jabatannya sebagai hakim dan
pekerjaan lainnya. Khomaeni membuat perempuan terkungkung kembali
sedalam-dalamnya dalam system patriarkhi yang tidak pernah hilang olehnya.
Suara perempuan tidak akan pernah di dengar kembali, kebebasannya pun telah
direnggut oleh kebijakan pariarkhal Khomaeni. Perempuan haruslah mengenakan
kerudungnya kemanapun dia pergi dan harus mendapat izin dari muhrimnya atau
yang bertanggungjawab atas diri perempuan tersebut. Dari peraturan-peraturan
ini menunjukkan bahwa Khomaeni yang merupakan seorang ulama yang juga berperan
dalam memimpin Negara, belum bisa berlaku adil terhadap rakyatnya, khususnya
perempuan. Meskipun begitu gerakan-gerakan feminis di Iran tidaklah lenyap
begitu saja, meskipun mereka dimarjinalisasikan.
Lain halnya dengan keberadaan gerakan perempuan di Mesir,
yang harus terus berjuang untuk mendapatkan
kebijakan tentang kesetaraan gender. Awal dari gerakan feminis di Iran
adalah memperjuangkan hak-hak perempuan secara nasional, yaitu hak-hak
keberadaannya sebagai manusia, hak seorang warga negara yang baik. Namun
seiring berjalannya waktu beberapa kelompok dari mereka tidak sependapat dengan
kelompok lainnya. Hingga mereka terbagi menjadi beberapa kelompok karena
perbedaan ideologi yang mereka pegang. Setelah mereka terpecah, ada kelompok
yang selalu menuduh kelompok saingannya sebagai gerakan feminis radikal, ada
yang dibilang terlalu sekuler, bahkan ada yang dianggap terlalu berpegang pada
kaum feminis barat. Hal ini menyebabkan mereka kurang disegani oleh para
penentang gerakan feminis. Perempuan di Mesir selalu diawasi gerak-geriknya
supaya tidak terlibat dalam gerakan feminisme ini. Tapi dibalik itu semua,
feminisme Mesir masih lebih berpegang teguh pada syari’at Islam sehingga mereka
tidak menanggalkan kerudungnya seperti yang dilakukan oleh pemerintah Iran pada
kekuasaan Pahlevi. Mereka hanya menuntut eksistensi mereka dalam negara,
keluarga, dan pekerjaan.[3]
Amat banyak hal yang diperjuangkan kaum perempuan diseluruh
dunia tentang kesetaraan gender. Tapi di dunia timur yang mayoritas muslim dan
sangat berpegang pada system patriarkhi, yang selalu mengutamakan kepentingan
hak seorang laki-laki ketimbang kepentingan dan hak-hak perempuan. Dalam
kepemimpinan seorang dictator seperti Reza Shah Pahlevi yang juga sangat
bercondong kepada system pemerintahan di barat, perempuan begitu banyak
diuntungkan. Sedangkan dalam pemerintahan Khomaeni yang justru berasaskan
system pemerintahan, malah kaum perempuan selalu dirugikan, bahkan
eksistensinya bisa dianggap tidak diharapkan. Lantas bagaimanakah kebijakan
yang harus diberikan pemerintah suatu Negara terhadap pemerintah. Ide-ide besar
inilah yang masih diperjuangkan oleh kaum feminis di seluruh dunia. Supaya
perempuan mendapatkan kedudukan yang setara dengan laki-laki, baik dalam wilayah domestic rumah tangga,
maupun dalam ruang lingkup umum sebagai seorang warga Negara. Supaya tidak
termarjinalisasikan lagi oleh system patriarkhi dari pihak ayah ataupun pihak
saudara laki-laki dari setiap perempuan.
Untuk pembahasan Turki saya belum mendapatkan referensi yang
tepat.
Daftar Pustaka
Rosyidah, Ida, Jurnal Harkat, Vol. 8 No. 2, Jakarta: Pusat
Studi Wanita UIN Syarif Hidayatullah, 2008
Muhammad Abdun Nasir, Menolak
Subordinasi, Menyeimbangkan Relasi; Beberapa Catatan Reflektif Seputar Islam
dan Gender, Pusat Studi Wanita IAIN Mataram, 2007
[1] Mullah adalah sebutan bagi para ulama. Para
ulama sangat menentang kebijakan-kebijakan terhadap perempuan yang dibuat oleh
Pahlevi.
[2] Ida Rosyidah, Jurnal Harkat, Vol. 8
No. 2, Jakarta: Pusat Studi Wanita UIN Syarif Hidayatullah, 2008
[3] Muhammad Abdun Nasir, Menolak Subordinasi,
Menyeimbangkan Relasi; Beberapa Catatan Reflektif Seputar Islam dan Gender, Pusat
Studi Wanita IAIN Mataram, 2007
Tidak ada komentar:
Posting Komentar