PEREMPUAN DALAM MEDIA
Abdus Syakur
Dalam perjalanan sejarah tidak nbisa dipungkiri bahwa media
mempunysi peran yang sanagat penting dalam kehidupan manusia. Bahkan
seandaianya kita berbicara tetang idelisme benyak media menjadi alat yang
paling efektif untruk mennyampaikan sebuah gagasan pembaharuan ke muka bublik.
Contoh saja, kalo kita sejarah pembaharuan-pembaharuan di berbagai belahan
dunia, media sanagat berpweran aktif dalam hal itu, baik itu di Barat maupun di
Timur.
Lihat saja ketika Eropa sedang dilanda krisis moral dimana
perempuan waktu itu berada di posisi kedua waktu itu, orasi-orasi tentang
kebesan hak asasi manusia, tentang kebebasan perempuan juga sanagt besar di
sampaiakan melalui media. Hingga akhirnya Eropapun berhasil mendobrak persoalan
ketidakadilan gender atas peran media yang cukup besar. Kalo meliahat kenyataan
ini nampaknya media mempunyai peran cukup besar untutk menyampaikan
gagasan-gagasan tentang hak asasi manusia, kebebasan, bahkan persoalan
kebebasan perempuan.
Kemudia, kita juga bisa melihat berbagai pembaharuan yanag di
lakukan dalam dunia Islam seperti permbaharuan Islam di Mesir dan pembaharuan
Islam di Turki juag tidak bisa di lepaskan dari media. Lihat saja, ketika masa
awal yang di lakukan di Mesir para penggaggas kebebasan perem,puan menggunakan
media sebagai alat untuk mengajak semua kalangan bahwa sebenarnya antara
laki-laki dan perempuan mempunyai hak yang sama dalam sebuah sistem sosial,
fingsi sosial dan status sosial. Bahakan tulisan-tulisan dan gagasan tentang
femenisme dan kesetaraan gender banyak di tampilkan melalui majalah, koran, dan
sebagainya.
Tetapi perjalalanan sejaerah terus melaju, sehingga pada maso
modern ini media tidak sekedar mempunyai fungsi yang sesederhana itu. Media
pada massa modern termasuk dengan berkembanaganaya media elektronik seperti
radio, televisi, dan sebagainya, beralih fungsi dari sekedar publikator sebuah
gagasan dan pemikiran menjadi lahan basah untuk melangsungkan promosi-promosi
pemasaran dan media iklana sebuah produk.
Samapai detik ini peran wanita di dalam media sama sekali mempunyai
peran yang jauh berbeda dibandingkan dengan masa awal pembaharuan seperti yang
perbah terjadi mesir. Pada masa media modern seperti sekarang ini perempuan
seolah menjadi objek yang sekedar dijadikan daya Tarik untuk sebuah kepentingan
tertentu. Sebut saja contohnya dalam majalah, film, iklan media massa maupun
media elektronik, permpuan selalu dijadikan objek daya tari dalam sebuah
kepentingan tertentu. Anehnya, para khalayak seolah tidak pernah bertanya
kenapa harus perempuan? Ada apa dengan perempuan?
Kita bisa meliahat kenyataan ini melalui cover-caver majalah, iklan
di koran, ikalan ditelevisi yang mana disitu terpampang gambar-gambar wanita
cantik dan seksi yang kalo kita sadari seolah dia menjadi objek yang strategis
dalam sebuah kepentinga pemasaran.
Namun kitika kita mencoba berfikir secara lebih kritis tetang hal
itu, kita selslu dihadapkan dengan alasan-alasan hak dan kebebasan. Yang kita
dengarkan adalah bahwa seorang perempuan juag mempunyai hak dan kebebasan
berskpresi, sehingga persoalan ini sama sekali tidak menjadi sebuah persoalan.
Padahal bagi penulis, lebih dari sekedar hak dan kebebasan berekspresi, disitu
terdapat hal yang mengganjal. Kenapa selalu wanita yang menjadi objek? Kenapa
wanita-tersebut tersebut menjadi bangga sedang dirinya dijadikan sebuah objek
kepentingan? Bagi penulis realitas moral ini harus dikaji secara lebih
mendalam. Yang menjadi persoalan bagai penulis bukanlah tentang kebebasan
berekpresi, tetapi marilah kita tanyakan apakah benar wanita tampil disitu
hanaya sekeder menjadi daya tarik? Dan terlepas dari benar dan salah tentang
kenyataan di atas kenapa kiata sebagai subjek, yakni sebagai khalayak sebuah
media disadari atau tidak, kita selalu menjadi subjek yang menganggap wanita
sebagai objek yang menarik. Itulah yang menurut penulis menjadi persoalan. Maka
dalam persoalan ini kita harus mengkonstruksi apa dan bagaimana sebenarnaya
identitas perempuan dalam berbegai media, seperti majalah, iklan, film, dan
sinetron.
Konstruksi kesadaran indentitas perempuan dalam majalah
Identitas perempuan dalam majalah khususnya majalah di Indonesia,
kita bisa melihatnya dari dua aspek. Pertama, perempuan sebagai ekpresi
kebebasan. Kedua, perempuan sebagai sebuah objek estetika dan etika yang
posisinya sebagai pemeran lokal dan posisinya sebagai pemeran global. Sebanarnya
kenytaan ini tidak hanaya identitas perempuan pada majalah, tetapi juga pada
media lainnya. Perempuan tampil dalam media seharusnya lebih dari sekedar
kebebasan ekspresi. Tetapi yang menjadi persoalan dewasa ini adalah identitas
perempuan di tengah arus globalisasi. Di sisi lain perempuan di Indonesia harus
menampilkan dirinya sebagai indentitas etika dan estetika lokal. Tetapi di sisi
lain perempuan menampilkan drinya dalam arus globalisasi yang menjadikan
estetika dan etika lokal semakin tenggelam. Bagi penulis kenyataan ini bisa
dijadikan sebuah renumgan dalam mengkonstruksi bagaimana sebenarnya identitas
perempuan dalam kebebasan ekpresi baik dari segi etika maupun estetika di dalam
aspek lokal dan arus globalisasi.
Konstruksi Kesadaran Indentitas Perempuan dalam Iklan
Seperti yang telah diungkapkan dalam pendahuluan di atas. Identitas
perempuan dalam iklan menempati posis sebagai subjek dan objek. Perempuan
sebagai subjek, karena dia mengerti betul tentang posisi dan identritasnya
sebagai sebuah kebebasan ekspresi, dan itulah yang memang menjadi harapan dalam
setiap saura yang dibicarakan tentang persoalan perempuan. Bahkan lebih dari
sekedar kebebasan ekspresi perempuan dalam iklan juga menempatkan dirinya
sebagai profesi. Jika hal tersebut ditempatkan sebagai profesi dalam kacamata
sosial memang tidak ada dan tidak perlu ada masalah. Namun hendaknya kita
renungkan kembali benarkah posisi perempuan dalam profesi tersebut adalah
benar-benar murni kebebasan ekspersi? Jangan jangan perempuan sebagai objek
yang mana posisi tersebut sebagai sebuah tekanan sosial di mana secara tidak
langsung dan disadari atau khalayak
mempunyai asumsi perempuan sebagai objek yang dianggap objek yang menarik.
Perempuan sebagai objek itulah yang pantas menjadi bahan renungan. Tetapi
jiakapun hal itu benar, yang harus di benahi bukanlah posisi perempaun sebagai
objek, melainkan bagaimanakah kita sebaagai sebjek khalayak seharusnya menyadari
bahwa posisi perempuan tersebut bukan sekedar menjadi obejek sebagai penarik.
Jika asumsi kita sebagai khalayak baik disadar atau tidak tetap berasusmi bahwa
perempuan menempat sebgai daya Tarik, maka posisi perempuan dalam hal ini
menjadi sekedar objek yang dimamfaatkan oleh kepentingan tertentu. Secara
realitas hal ini bisa kita lihat bagaiman posisi dan identitas dalam iklan yang
mempromosikan suatu prodak tertentu. Jika kita sebagai khalayak tidak segera
menyadari tentang asumsi bahwa perempuan hal yang menarik, maka dalam posisi
tersebut selamanya perempuan akan sekedar dihargai sebagai sesuatu yang
dimanfaatkan sebagai objek yanmg menarik. Padahal seharusnya perempuan dalam
kebebasan berekspresinya lebih dari sekedar itu.
Konstruksi Kesadaran Indentitas Perempuan dalam Iklan
Bagi penulis sendiri posisi perempuan baik dalam perfileman lokal
yakni Indonesia maupaun perfileman
internasional belum menempatkan peerempuan sebagai posisi sebagai hakikat
kebebasan perempuan yang semestinya. Ralitas ini bisa kita saksikan dalam
setiap filem khususnya perfileman Indonesia perempuan sering ditempatkan posisi
dan status sosial yang mempunyai peran belum cukup penting dalam sosial.
Perfileman Indonesia selama ini seolah menampilkan sosok perempuan
dalam posisi sosial yang pasif dan beku. Buktinya begitu banyak filem yang
masih menampilkan bentuk-bentuk kekerasan yang dilakukan terhadap perempuan.
Seolah-seolah perfileman Indonesia mendukung asumsi yang salah selama ini dalam
masyarakat. Seharusnya perfileman di Indonesia mempunyai dobrakan yang
direncanakan untuk menghapus asumsi-asumsi yang salah tentang perempuan yang
salah dalam masyarakat, bukan malah mendukungnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar