Rabu, 04 Desember 2013

PEREMPUAN DALAM MEDIA Abdus Syakur



PEREMPUAN DALAM MEDIA
Abdus Syakur
Dalam perjalanan sejarah tidak nbisa dipungkiri bahwa media mempunysi peran yang sanagat penting dalam kehidupan manusia. Bahkan seandaianya kita berbicara tetang idelisme benyak media menjadi alat yang paling efektif untruk mennyampaikan sebuah gagasan pembaharuan ke muka bublik. Contoh saja, kalo kita sejarah pembaharuan-pembaharuan di berbagai belahan dunia, media sanagat berpweran aktif dalam hal itu, baik itu di Barat maupun di Timur.
Lihat saja ketika Eropa sedang dilanda krisis moral dimana perempuan waktu itu berada di posisi kedua waktu itu, orasi-orasi tentang kebesan hak asasi manusia, tentang kebebasan perempuan juga sanagt besar di sampaiakan melalui media. Hingga akhirnya Eropapun berhasil mendobrak persoalan ketidakadilan gender atas peran media yang cukup besar. Kalo meliahat kenyataan ini nampaknya media mempunyai peran cukup besar untutk menyampaikan gagasan-gagasan tentang hak asasi manusia, kebebasan, bahkan persoalan kebebasan perempuan.
Kemudia, kita juga bisa melihat berbagai pembaharuan yanag di lakukan dalam dunia Islam seperti permbaharuan Islam di Mesir dan pembaharuan Islam di Turki juag tidak bisa di lepaskan dari media. Lihat saja, ketika masa awal yang di lakukan di Mesir para penggaggas kebebasan perem,puan menggunakan media sebagai alat untuk mengajak semua kalangan bahwa sebenarnya antara laki-laki dan perempuan mempunyai hak yang sama dalam sebuah sistem sosial, fingsi sosial dan status sosial. Bahakan tulisan-tulisan dan gagasan tentang femenisme dan kesetaraan gender banyak di tampilkan melalui majalah, koran, dan sebagainya.
Tetapi perjalalanan sejaerah terus melaju, sehingga pada maso modern ini media tidak sekedar mempunyai fungsi yang sesederhana itu. Media pada massa modern termasuk dengan berkembanaganaya media elektronik seperti radio, televisi, dan sebagainya, beralih fungsi dari sekedar publikator sebuah gagasan dan pemikiran menjadi lahan basah untuk melangsungkan promosi-promosi pemasaran dan media iklana sebuah produk.
Samapai detik ini peran wanita di dalam media sama sekali mempunyai peran yang jauh berbeda dibandingkan dengan masa awal pembaharuan seperti yang perbah terjadi mesir. Pada masa media modern seperti sekarang ini perempuan seolah menjadi objek yang sekedar dijadikan daya Tarik untuk sebuah kepentingan tertentu. Sebut saja contohnya dalam majalah, film, iklan media massa maupun media elektronik, permpuan selalu dijadikan objek daya tari dalam sebuah kepentingan tertentu. Anehnya, para khalayak seolah tidak pernah bertanya kenapa harus perempuan? Ada apa dengan perempuan?
Kita bisa meliahat kenyataan ini melalui cover-caver majalah, iklan di koran, ikalan ditelevisi yang mana disitu terpampang gambar-gambar wanita cantik dan seksi yang kalo kita sadari seolah dia menjadi objek yang strategis dalam sebuah kepentinga pemasaran.
Namun kitika kita mencoba berfikir secara lebih kritis tetang hal itu, kita selslu dihadapkan dengan alasan-alasan hak dan kebebasan. Yang kita dengarkan adalah bahwa seorang perempuan juag mempunyai hak dan kebebasan berskpresi, sehingga persoalan ini sama sekali tidak menjadi sebuah persoalan. Padahal bagi penulis, lebih dari sekedar hak dan kebebasan berekspresi, disitu terdapat hal yang mengganjal. Kenapa selalu wanita yang menjadi objek? Kenapa wanita-tersebut tersebut menjadi bangga sedang dirinya dijadikan sebuah objek kepentingan? Bagi penulis realitas moral ini harus dikaji secara lebih mendalam. Yang menjadi persoalan bagai penulis bukanlah tentang kebebasan berekpresi, tetapi marilah kita tanyakan apakah benar wanita tampil disitu hanaya sekeder menjadi daya tarik? Dan terlepas dari benar dan salah tentang kenyataan di atas kenapa kiata sebagai subjek, yakni sebagai khalayak sebuah media disadari atau tidak, kita selalu menjadi subjek yang menganggap wanita sebagai objek yang menarik. Itulah yang menurut penulis menjadi persoalan. Maka dalam persoalan ini kita harus mengkonstruksi apa dan bagaimana sebenarnaya identitas perempuan dalam berbegai media, seperti majalah, iklan, film, dan sinetron.
Konstruksi kesadaran indentitas perempuan dalam majalah
Identitas perempuan dalam majalah khususnya majalah di Indonesia, kita bisa melihatnya dari dua aspek. Pertama, perempuan sebagai ekpresi kebebasan. Kedua, perempuan sebagai sebuah objek estetika dan etika yang posisinya sebagai pemeran lokal dan posisinya sebagai pemeran global. Sebanarnya kenytaan ini tidak hanaya identitas perempuan pada majalah, tetapi juga pada media lainnya. Perempuan tampil dalam media seharusnya lebih dari sekedar kebebasan ekspresi. Tetapi yang menjadi persoalan dewasa ini adalah identitas perempuan di tengah arus globalisasi. Di sisi lain perempuan di Indonesia harus menampilkan dirinya sebagai indentitas etika dan estetika lokal. Tetapi di sisi lain perempuan menampilkan drinya dalam arus globalisasi yang menjadikan estetika dan etika lokal semakin tenggelam. Bagi penulis kenyataan ini bisa dijadikan sebuah renumgan dalam mengkonstruksi bagaimana sebenarnya identitas perempuan dalam kebebasan ekpresi baik dari segi etika maupun estetika di dalam aspek lokal dan arus globalisasi.
Konstruksi Kesadaran Indentitas Perempuan dalam Iklan
Seperti yang telah diungkapkan dalam pendahuluan di atas. Identitas perempuan dalam iklan menempati posis sebagai subjek dan objek. Perempuan sebagai subjek, karena dia mengerti betul tentang posisi dan identritasnya sebagai sebuah kebebasan ekspresi, dan itulah yang memang menjadi harapan dalam setiap saura yang dibicarakan tentang persoalan perempuan. Bahkan lebih dari sekedar kebebasan ekspresi perempuan dalam iklan juga menempatkan dirinya sebagai profesi. Jika hal tersebut ditempatkan sebagai profesi dalam kacamata sosial memang tidak ada dan tidak perlu ada masalah. Namun hendaknya kita renungkan kembali benarkah posisi perempuan dalam profesi tersebut adalah benar-benar murni kebebasan ekspersi? Jangan jangan perempuan sebagai objek yang mana posisi tersebut sebagai sebuah tekanan sosial di mana secara tidak langsung dan disadari atau  khalayak mempunyai asumsi perempuan sebagai objek yang dianggap objek yang menarik. Perempuan sebagai objek itulah yang pantas menjadi bahan renungan. Tetapi jiakapun hal itu benar, yang harus di benahi bukanlah posisi perempaun sebagai objek, melainkan bagaimanakah kita sebaagai sebjek khalayak seharusnya menyadari bahwa posisi perempuan tersebut bukan sekedar menjadi obejek sebagai penarik. Jika asumsi kita sebagai khalayak baik disadar atau tidak tetap berasusmi bahwa perempuan menempat sebgai daya Tarik, maka posisi perempuan dalam hal ini menjadi sekedar objek yang dimamfaatkan oleh kepentingan tertentu. Secara realitas hal ini bisa kita lihat bagaiman posisi dan identitas dalam iklan yang mempromosikan suatu prodak tertentu. Jika kita sebagai khalayak tidak segera menyadari tentang asumsi bahwa perempuan hal yang menarik, maka dalam posisi tersebut selamanya perempuan akan sekedar dihargai sebagai sesuatu yang dimanfaatkan sebagai objek yanmg menarik. Padahal seharusnya perempuan dalam kebebasan berekspresinya lebih dari sekedar itu.            
Konstruksi Kesadaran Indentitas Perempuan dalam Iklan
Bagi penulis sendiri posisi perempuan baik dalam perfileman lokal yakni Indonesia  maupaun perfileman internasional belum menempatkan peerempuan sebagai posisi sebagai hakikat kebebasan perempuan yang semestinya. Ralitas ini bisa kita saksikan dalam setiap filem khususnya perfileman Indonesia perempuan sering ditempatkan posisi dan status sosial yang mempunyai peran belum cukup penting dalam sosial.
Perfileman Indonesia selama ini seolah menampilkan sosok perempuan dalam posisi sosial yang pasif dan beku. Buktinya begitu banyak filem yang masih menampilkan bentuk-bentuk kekerasan yang dilakukan terhadap perempuan. Seolah-seolah perfileman Indonesia mendukung asumsi yang salah selama ini dalam masyarakat. Seharusnya perfileman di Indonesia mempunyai dobrakan yang direncanakan untuk menghapus asumsi-asumsi yang salah tentang perempuan yang salah dalam masyarakat, bukan malah mendukungnya.     


Tidak ada komentar:

Posting Komentar