PEREMPUAN
DAN PEMBAGUNAN
Abdus Syakur
Perempuan dan pembangunan
adalah pendekatan yang ditujukan secara khusus kepada perempuan. Tujuan yang
ingin dicapai adalah untuk meningkatkan kemampuan perempuan agar turut serta
dalam proses pembangunan secara serasi dan selaras sehingga memungkinkan
perempuan mengejar ketinggalannya dripada laki-laki. Kegiatan pembangunan dalam
pendekatan perempuan dan pembangunan adalah proyek-proyek khusus perempuan yang
diarahkan pada upaya pemecahan persoalan dan permasalahan perempuan.
Sebuah Bangsa yang maju mengakui bahwa perlu perbaikan kualitas, status,
dan peran perempuan dalam pembangunan
untuk meninggkatkan keadilan sosial dan memenuhi hak-hak asasi manusai
yang setara antara laki-laki dan perempuan. Peningkatan kualitas perempuan
menjadi dasar untuk menciptakan pembangunan yang berkelanjutan bagi suatu
bangsa. Dengan demikian upaya untuk
peningkatan kualitas perempuan dilakukan
dalam rangka menciptakan keserasian antara hak-hak asasi dan keadilan
sosial bagi perempuan dan laki-laki serta alasan efesiensi ekonomi dalam
pembangunan berkelanjutan[1].
a.
Pendekatan Women In Deveploment
(WID)
Women in Development (WID)
didasarkan pada teori modernisasi dan feminis
liberal yang bertujuan untuk mengintegrasi wanita dalam proses pembangunan.
Perspektif WID berlanjut eksistensi seiring dengan paradigma modernisasi,
dimana negara berkembang mengadopsi teknologi, kelembagaan dan nilai-nilai
barat. Perspektif WID menekankan persamaan kesempatan untuk wanita. liberal perspective on feminism. Untuk
membentuk keberadaan wanita dalam proses pembangunan, Kebijakan berorientasi
wanita diperlukan dengan ambisi untuk meningkatkan efisiensi dan kemajuan
pembangunan ekonomi.
Pendekatan
women in development (WID) atau peningkatan peran wanita dalam pembangunan
berpijak dari dua sasaran yaitu: pentingnya prinsip egalitarian[2] dan
menitikberatkan pada pengadaan program yang dapat mengurangi atau menghapuskan
diskriminasi yang dialami oleh para perempuan di sektor produksi.
Program-program yang dapat diterapkan untuk pelaksanaan pendekatan WID adalah
yang dapat menghasilkan pendapatan bagi perempuan dan juga mendorong perempuan
memasuki dunia publik.
Pendekatan WID dianggap mengalami kegagalan dalam membebaskan perempuan dari
diskriminasi dan ketidakadilan.
Strategi
WID banyak mendapat kritik terutama dari kelompok feminis dengan menekankan
tiga asumsi dasar, yaitu:
a.
strategi
ini diasumsikan sebagai agenda dari dunia pertama terhadap dunia ketiga
b. diasumsikan strategi ini memiliki bias
kepentingan dari kelompok feminisme liberal yang diwakili oleh perempuan kulit
putih yang dipandang tidak memiliki kepentingan dengan pembebasan para
perempuan didunia ketiga
c. diasumsikan bahwa strategi ini lebih
mengarah pada pengekangan terhadap para perempuan dan bukan merupakan upaya
pembebasan.
Kritik lain yang dilancarkan untuk strategi pemberdayaan ini adalah
strategi ini lebih menekankan atau fokus pada peran seseorang dan mengabaikan
hubungan dan relasi social antara laki-laki dan perempuan. Sehingga strategi
ini dipandang belum mampu menjamin perempuan memperoleh manfaat pembangunan.
b.
Pendekatan Women And Deveploment (WAD)
WAD pada awalnya adalah
pandangan Neo-Marxist berpijak pada
pandangan feminis yang kuat pada analisis kelas sosial dan eksploitasi di
negara dunia ketiga. Pendekatan ini berkembangan pada pertengahan 1970an,
karena melihat keterbatasan dari modernisasi.WAD mengambil dasar teorinya dari
teori dependensiaà, dimana pada
konteks global, negara-negara berkembang, semakin berkembang melalui
eksploitasi negara-negara yang menjadi peripernya.Pendekatan WAD mengasumsikan
bahwa perempuan sudah berpartisipasi aktif dalam pembangunan.WAD
mengadvokasikan bahwa baik wanita bekerja yang dibayar ataupun tidak dibayar
sama pentingnya dalam pembangunan. Berbeda dengan WID, WAD percaya bahwa
dibawah kapitalisme global, penekanan terhadap perempuan tidak akan berakhir.
WAD gagal
menganalisa dalam skala penuh, antara patriarki dan subordinasi perempuan.
BagiWAD, ini berimplikasi bahwa partisipasi wanita akan semakin baik jika ada
perubahan dalam struktur kelembagaan. Walau mungkin dapat berlangsung, WAD
telah menggiring kepada pergeseran dimana wanita semakin produktif atas dasar
korbanan sisi reproduktif dari kerja dan kehidupannya.
c.
Pendekatan Gender And Deveploment
(GAD)
Gender
dan pembangunan adalah pendekatan pembangunan yang mengintegrasikan aspirasi,
kepentingan dan peran laki-laki dan perempuan yang memungkinkan perempuan
mengejar ketinggalannya dari pria dan sebagai upaya mengubah hubungan gender
yang merugikan salah satu pihak menuju hubungan gender yang selaras dan serasi[3].
Dalam
pembangunan berdasarkan pendekatan gender dicegah terjadinya kesenjangan
hak, kedudukan dan kesempatan berperan anatara laki-laki dan perempuan serta
sekaligus dihindari adanya upaya –upaya yang merugikan laki-laki atau
perempuan. Sedangkan pelaksanaan pendekatan GAD diarahkan pada upaya pengubahan
ketidakseimbangan hubungan kekuasaan antara laki-laki dan perempuan dengan
memperhatikan kebutuhan dan potensi masing-masing.
Akar
teori dari model GAD adalah feminisme sosialis yang melihat sektor produksi dan
reproduksi sebagai basis penindasan perempuan. Artinya pembebasan perempuan
tidak hanya pada sektor reproduksi (domestik), tetapi juga pada bidang-bidang
produkif (publik). GAD
(Gender and Development) memandang pentingnya partisipasi negara dalam menunjang
emansipasi perempuan dan negara memiliki tugas untuk menyediakan jasa sosial
yang selama ini disediakan oleh perempuan secara individual seperti peralatan
anak dan kesehatan.
Dengan
demikian pendekatan tersebut memperbaiki pendekatan sebelumnya dengan mengakui
pentingnya analisis kelas, ras, gender, dan pembangunan, sebagai masalah yang
harus menjadi pusat perhatian.
Ini
berarti mode GAD tidak hanya memperhatikan perempuan, tetapi pada kontruksi
sosial gender dan pemberian peran tertentu pada perempuan dan laki-laki. Lebih
jauh model ini melihat perempuan lebih sebagai agen perubahan dari perubahan
sosial dan bukan hanya sebagai penerima bantuan pembangunan yang pasif. Dengan
cara ini dapat dicari penyelesaian masalah bersama melalui metode-metode yang
demokratif, bukan sekedar penyuluhan-penyuluhan yang bersifat top down.
Transformasi sosial semacam ini hanyya bisa terjadi lewat pembentukan
solidaritas perempuan yang terorganisir.
Bagi
strategi GAD letak
persoalannya bukanlah pada kaum perempuan sebagaimana diasumsikan semula, akan
tetapi pada bagaimana menghapuskan segala bentuk diskriminasi dan ketidakadilan
gender. Strategi kedua ini menitikberatkan pada pemberdayaan (empowerment)
dan perubahan struktur gender inilah yang dikenal dengan pendekatan Gender
and Development (GAD) yang sebelumnya berubah menjadi strategi WAD (Women
and Development) setelah tidak berhasilnya strategi WID. Berbeda dengan
WID yang melahirkan proyek-proyek peningkatan peran perempuan seperti proyek
peningkatan penghasilan perempuan dan didirikannya kementerian peranan wanita,
maka puncak keberhasilan strategi ketiga ini menghasilkan kebijakan global yang
monumental bagi perjuangan kaum perempuan ini, yakni dengan diterimanya secara
global konvensi anti segala bentuk diskriminasi terhadap kaum perempuan
yang dikenal dengan CEDAW (Convention on the Elemination of all Form of
Discrimination Againts Women) tersebut.
[1] . Khofifah Indar Parawansa. Mengukir Paradigma Menembus Tradisi
pemikiran tentang keserasian jender.Pustaka
LP3ES Indonesia: Jakarta.cetakan 1. 2006
[2] Sebuah elemen yang konsisten dalam berbagai penuturan etis Al-Qur’an
[3] . Khofifah Indar Parawansa. Mengukir Paradigma Menembus Tradisi
pemikiran tentang keserasian jender.Pustaka
LP3ES Indonesia: Jakarta.cetakan 1. 2006
Tidak ada komentar:
Posting Komentar