RESUME BUKU
Oleh:
Nama/NIM : ABDUS SYAKUR/1110033100023
Kelas : AF/VII
Mata
Kuliah : Relasi Gender
dalam Agama-agama
Dosen : Siti Nadroh, MA
Judul asli :
Qodiyyah Tahrir al-Mar’ah
Penulis :
Muhammad Quthub
Penerbit :
Riyadh: Dar al-Wathan li al-Nasyr, cetakan I 140 H/1910 M
Diterjemahkan
Judul :
Dibawa Kemana Wanita Kita
Penerjemah : R.B.
Irwan dn Fauzi Rahman
Penerbit :
Jakarata: Pustaka kaustar, cetakan I, November 1993
Halaman : 83 Halaman
Cover Depan dan Belakang


MASALAH EMANSIPASI PEREMPUAN
Abdus Syakur
Qosim Amin dianggap sebagai pahlawan dalam
persoalan ini. Ia adalah seorang yang dibesarkan dalam keluarga Turki-Mesir. Ia
sanagat cerdas dan jenius. Namun pemikirannya yang jenius tersebut dimamfaatkan
oleh npara missionarin dan para orientalis untuk menghancurkan Islam dari
belakang. Ia menulis pemikirannya dalam buku yang berjudul Tahrir al-Mar’ah (emansiapsi
perempuan). Dalam buku tersebut ia menyuarakan tentang kebebasab perempuan dan
pembebasab hijab bagi perempuan ketika bepergian. Qosim Amin mendapat protes
yang keras dalam pandangan tersebut, bahkan ia sempat diam dan tidak lagi
bersuara. Tetapi kemudian ia mendapat dudkungan dari Rifa’ah al-Tahthawi dan
Sa’ad Zughul sehingga kembali menyuarakan tentang hak dan kebebasan perempuan.
Dengan begitu Qosim Amin telah mengajarkan sesuatu yang telah menjatuhkan
muralitasi perempuan Islam sehingga menyerupai moralitas perempuan di Barat
atau Eropa. Sehingga tidak ada lagi yang membedakan antara perempuan Muslim dan
perempuan musyrik. Malah sebelum kematiannya Qosim Amin berterima kasih kepada perempuan-perempuan
ekspedisi yang datang dari Perancis ke Mesir untuk melawat Qosim Amin, dan ia
juga berharap agar suatu saat perempuan-perempuan di Mesir bisa sama dengan perempuan-perempuan
yang ada di Perancis.
Permasalahan tentang persoalan hak pada waktu
itu sanagtlah berbeda antara apa yang terjadi di Barat dan yang terjadi di dlam
Islam. Di Barat yang menjadi persoalan pada waktu itu adalah upah para perempuan
yang bekerja sama seperti laki-laki namun mendapat gaji yang lebih kecil. Jadi
wajar kalo perempuan di sana menyarakan hak dan kebebasan karena mendapat
jastifikasi di bawah laki-laki. Perempuan yang tidak memakai jilbab dan
perempuan yang kelur dari rimah tidak pernah menjadi persoalan di Barat. Tetapi
ketiak persoalan kebebasan perempuan dan kebesan tidak memakai jilbab di tarik
ke dalam Islam, ini menjadi permasalahan yang besar dalam Islam. Karena
persoalan jilbab di dalam Islam bukanlah sebuah jastifikasi dari kaum
laki-laki, akan tetapi sebuah ketetapan yang dari Alllah yang sifatnya mutlak
dan harus ditaati. Dan hanayalah orang yang dzalim yang berani menyarakan
kebebasan perempuan dan kebebasan memkai jilbab.
Dalam pembaharuan di Mesir dan di Turki ada
beberapa tokoh yang dianggap sebagai pahlawan. Tokoh-tokoh tersebut seperti
Huda Hanim Sya’rawi (yang menggerakkan perempuan ketika melawan kolonilisme
Inggris pada waktu itu), Shafiyah Hanim Zaghul, Kamal Attatruk (Bapak
Sekularisasi di Turki), Ahmad bin Pela dan lain sebagainay, yang mana mereka
dianggap sebagai pahlawan dalam pembaharuan Mesir dan Turki. Badahal di
belakang para pahlawan tersebut berdiri orang-orang Yahudi dan Missionareis
yang ingin menghancurkan Islam dengan berkedok pembaharuan dan pembebasan
perempuan. Dan seruan-seruan tersebut disampaikan melaui Pendidikan Dasar
samapai Perguruan Tinggi.
Orang-orang kafir sanagt senang dalam melihat
kenyataan ini. Mereka memanfaatkan orang-orang Islam yang lengah untuk
melaksanakan tugas-tugas dan rancangan-rancangan untuk menghancurkan Islam. Orang-orang
yang lengah tersebut merasa benar dalam menjalankan dakwahnya yang tel;ah
diperintahkan oleh setan dan tidak merasa bahwa dirinya dzalim.
Misi-misi para missionaris tersebut secara
perlshan tapi pasti semakin menggerogoti moralitas Islam dan merupakan
tantangan yang keras bagi Islam. Apakah jilbab yang jatuh adalah tindaakan dari
akidah yang hakiki? Orang yang beriman tidak akan terjatuh walaupun mendapat
tantangn sebesar apapun melawan tekanan zaman dan melawan dan pembaharuan.
Misi-misi tersebut dilakukan melaui berbagi media seperti koran, majalah,
radio, televisi dan sebagainya. Inilah yang terjadi pad masyrakat Mesir pada
waktu itu dan masyarakat Islam secara umum.
Upaya tesebut juga dilakukan melului kurikulum
pendidikan yang sedikit demi sedikit pendidikan antara laki-laki dan perempuan
disamakan. Lama kelamaan penundaan pernikahan dan kebebasan perempuan dalam
memilih pasangan sedikit demi sedikit mulai disuarakan. Dan ini sungguh
menggugurkan moralitas dan ahlak Islam.
Kemudian para perempuan dihadapkan dengan
perkembangan zaman dimana model fashion sangat berpengaruh bagi perilaku
perempuan. Hal tersebut di tampilakan melalui koran, majalah dan sebagainya.
Saat itulah maratabat seorang perempuan semakin hancur karena telah mencoba
keluar dari ikatan moral dan tradisi.
Setelah itu juga di suarakan tentang hak dan
kebebasan perempuan dalam pendidikan. Waniata dianggap mempunyai hak untuk
memasuki perguruan tinggi. Maka dalam hal ini ada sebuah perbedaan pendapat,
yakni ada yang mendukung dan ada tyang menolak. Alasan yang mendukung di
dasarkan kepada kemajuan pendidikan, ekonomi dan teknologi. Tetapi mereka
melupakan beberapa hal. Mereka tmelupakan kodrat seorang perempuan dan telah
tergiur dengan instrumen-instrumen kemajuan seoerti yang telah terjadi di Eropa
pada waktu itu. Mereka juga melupakan bahwa persoalan perempuan yang terjadi di
Eropa berbeda jauh dengan apa yang terjadi di Islam. Di Eropa tidak mempunya manhaj
Rabbani dan mengikuti hukum-hukum yang dibuat oeleh manusia, sedangkan
dalam Islam mempunyai manhaj Rabbani yang harus ditaati sebagai hukum.
Persoalan yang muncul antara Eropa dan Islam sangatlah jauh berbeda sehingga
membutuhkan penyelesaian yang berbeda pula. Di Eropa adalah persoalan ketidakadilan
perempuan dan laki-laki, sedangkan dalam Islam menyangkut persoalanm akidah.
Tetapi sekalipun demikian seandainya orang Eropa mau mengakui manhaj Rabbani
maka persoalan tersebut juga bisa diselesaikan melalui jalan tersebut.
Para pembeharu tersebut terdiri dari dua
golongan. Pertama, adalah orang-orang yang mengerti betul perbuhan tersebut
akan sangat berbahaya bagi ahalak ummat. Kedua, adalah orang-orang yang tertipu
dan merasa apa yang telah dilakukan adalah benar.
Sebenarnya Islam memang mengajarkan semua
umatnya untuk menuntut ilmu. Tetapi sekalipun demikian tidak boleh dilupakan
bahwa syariat telah membatasi tabiat dan tugas perempuan yakni memelihara
keluarga dan menjaga keturunan. Ini semua terjadi bukan karena perkembangan global,
melainkan terjadi karena kelemahan akidah dan kesilauan terhadap Barat yang
menganggap bahwa yang menag adalah orang yang kuat. Hendaknya peperangan
ideologi tidak akan mempengaruhi iman seseorang jiak orang tersebut berjalan di
atas Islam yang benar.
Sekarang perempuan yang masuk pada perguruan
tinggi tidak sekedar alasan ilmu, akan tetapi untuk membebaskan diri dari moral
dan tradisi. Sehingga atas dasar kebebasan perempuan menghamburkan aurat dan
kehilangan rasa malu. Uneversitas yang didirikan di mesir waktu itu bukan untuk
menjaga dan memelihara ahlak Islam, tetapi Uneversitas-uneversitas tersebut
didirikan atas dasar kebebasan. Para pengajarpun adalah orang-orang terpilih
yang sudah disetting oleh orang Yahudi untuk menghancurkan Islam.
Kemudian misi tersebut semakin lancar di atas alasanuntuk mengeluarkan Mesir
dari kekolotan. Beberapa fakultas sosial dan hukum didirikan yang kemudian
melahirka para pakar hukum yang cerdas. Namun karena mereka telah piauai dalam
hukum mereka semakin jauh dari syariat yang telah ditentukan oleh Allah.
Sementara fakultas-fakultas ilmu praktis melahirkan para sarjana sains yang
menganggap agama sebagai dogma karena telah menelah semua metode ilmu
pengetahuan yang berasal dari Barat. Maka dari itulah Uneversias-universitas
yang ada di Mesir pada waktu itu tidak hanya didirikan untuk menciptakan
laki-laki yang bebes tetapi juag perempuan yang bebas.
Para missionaris memamfaatkan ketidaktahuan
orang Islam dalam persoalan kedudukan perempuandalam Islam. Mereka berpendapat
bahwa perempuan di dalam Islam hanya dipandang sebagai Ibu yang mengandung dan
melahirkan dan melaksanakan tugas-tugas rumah dan tidak mempunyai kebebasan.
Kemudian “kejumudan” tersebut dimanfaatkan untuk menyuarakan kebebasan bagi
perempuan sehingga dalam hal ini persoalan perempuan dijadikan fitnah untuk
menjelek-jelekkan Islam. Sehingga saat itulah Eropa meneriakkan suaranya untuk
membebaskan perempuan dari agama, ahalak dan tradisi. Dari sinilah benih-benih
kebebasan moral muncul. Sehingga pergaulan bebasa dan seksualitas merajalela.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar