Rabu, 04 Desember 2013

Resume Buku:MASALAH EMANSIPASI PEREMPUAN Abdus Syakur



RESUME BUKU
Oleh:

Nama/NIM                  : ABDUS SYAKUR/1110033100023
Kelas                           : AF/VII
Mata Kuliah                : Relasi Gender dalam Agama-agama
Dosen                          : Siti Nadroh, MA


Judul asli                     : Qodiyyah Tahrir al-Mar’ah
Penulis                         : Muhammad Quthub
Penerbit                       : Riyadh: Dar al-Wathan li al-Nasyr, cetakan I 140 H/1910 M
Diterjemahkan
Judul                           : Dibawa Kemana Wanita Kita
Penerjemah                  : R.B. Irwan dn Fauzi Rahman
Penerbit                       : Jakarata: Pustaka kaustar, cetakan I, November 1993
Halaman                      : 83 Halaman


Cover Depan dan Belakang





MASALAH EMANSIPASI PEREMPUAN
Abdus Syakur
Qosim Amin dianggap sebagai pahlawan dalam persoalan ini. Ia adalah seorang yang dibesarkan dalam keluarga Turki-Mesir. Ia sanagat cerdas dan jenius. Namun pemikirannya yang jenius tersebut dimamfaatkan oleh npara missionarin dan para orientalis untuk menghancurkan Islam dari belakang. Ia menulis pemikirannya dalam buku yang berjudul Tahrir al-Mar’ah (emansiapsi perempuan). Dalam buku tersebut ia menyuarakan tentang kebebasab perempuan dan pembebasab hijab bagi perempuan ketika bepergian. Qosim Amin mendapat protes yang keras dalam pandangan tersebut, bahkan ia sempat diam dan tidak lagi bersuara. Tetapi kemudian ia mendapat dudkungan dari Rifa’ah al-Tahthawi dan Sa’ad Zughul sehingga kembali menyuarakan tentang hak dan kebebasan perempuan. Dengan begitu Qosim Amin telah mengajarkan sesuatu yang telah menjatuhkan muralitasi perempuan Islam sehingga menyerupai moralitas perempuan di Barat atau Eropa. Sehingga tidak ada lagi yang membedakan antara perempuan Muslim dan perempuan musyrik. Malah sebelum kematiannya Qosim Amin berterima kasih kepada perempuan-perempuan ekspedisi yang datang dari Perancis ke Mesir untuk melawat Qosim Amin, dan ia juga berharap agar suatu saat perempuan-perempuan di Mesir bisa sama dengan perempuan-perempuan yang ada di Perancis.
Permasalahan tentang persoalan hak pada waktu itu sanagtlah berbeda antara apa yang terjadi di Barat dan yang terjadi di dlam Islam. Di Barat yang menjadi persoalan pada waktu itu adalah upah para perempuan yang bekerja sama seperti laki-laki namun mendapat gaji yang lebih kecil. Jadi wajar kalo perempuan di sana menyarakan hak dan kebebasan karena mendapat jastifikasi di bawah laki-laki. Perempuan yang tidak memakai jilbab dan perempuan yang kelur dari rimah tidak pernah menjadi persoalan di Barat. Tetapi ketiak persoalan kebebasan perempuan dan kebesan tidak memakai jilbab di tarik ke dalam Islam, ini menjadi permasalahan yang besar dalam Islam. Karena persoalan jilbab di dalam Islam bukanlah sebuah jastifikasi dari kaum laki-laki, akan tetapi sebuah ketetapan yang dari Alllah yang sifatnya mutlak dan harus ditaati. Dan hanayalah orang yang dzalim yang berani menyarakan kebebasan perempuan dan kebebasan memkai jilbab.
Dalam pembaharuan di Mesir dan di Turki ada beberapa tokoh yang dianggap sebagai pahlawan. Tokoh-tokoh tersebut seperti Huda Hanim Sya’rawi (yang menggerakkan perempuan ketika melawan kolonilisme Inggris pada waktu itu), Shafiyah Hanim Zaghul, Kamal Attatruk (Bapak Sekularisasi di Turki), Ahmad bin Pela dan lain sebagainay, yang mana mereka dianggap sebagai pahlawan dalam pembaharuan Mesir dan Turki. Badahal di belakang para pahlawan tersebut berdiri orang-orang Yahudi dan Missionareis yang ingin menghancurkan Islam dengan berkedok pembaharuan dan pembebasan perempuan. Dan seruan-seruan tersebut disampaikan melaui Pendidikan Dasar samapai Perguruan Tinggi.
Orang-orang kafir sanagt senang dalam melihat kenyataan ini. Mereka memanfaatkan orang-orang Islam yang lengah untuk melaksanakan tugas-tugas dan rancangan-rancangan untuk menghancurkan Islam. Orang-orang yang lengah tersebut merasa benar dalam menjalankan dakwahnya yang tel;ah diperintahkan oleh setan dan tidak merasa bahwa dirinya dzalim.
Misi-misi para missionaris tersebut secara perlshan tapi pasti semakin menggerogoti moralitas Islam dan merupakan tantangan yang keras bagi Islam. Apakah jilbab yang jatuh adalah tindaakan dari akidah yang hakiki? Orang yang beriman tidak akan terjatuh walaupun mendapat tantangn sebesar apapun melawan tekanan zaman dan melawan dan pembaharuan. Misi-misi tersebut dilakukan melaui berbagi media seperti koran, majalah, radio, televisi dan sebagainya. Inilah yang terjadi pad masyrakat Mesir pada waktu itu dan masyarakat Islam secara umum.
Upaya tesebut juga dilakukan melului kurikulum pendidikan yang sedikit demi sedikit pendidikan antara laki-laki dan perempuan disamakan. Lama kelamaan penundaan pernikahan dan kebebasan perempuan dalam memilih pasangan sedikit demi sedikit mulai disuarakan. Dan ini sungguh menggugurkan moralitas dan ahlak Islam.
Kemudian para perempuan dihadapkan dengan perkembangan zaman dimana model fashion sangat berpengaruh bagi perilaku perempuan. Hal tersebut di tampilakan melalui koran, majalah dan sebagainya. Saat itulah maratabat seorang perempuan semakin hancur karena telah mencoba keluar dari ikatan moral dan tradisi.
Setelah itu juga di suarakan tentang hak dan kebebasan perempuan dalam pendidikan. Waniata dianggap mempunyai hak untuk memasuki perguruan tinggi. Maka dalam hal ini ada sebuah perbedaan pendapat, yakni ada yang mendukung dan ada tyang menolak. Alasan yang mendukung di dasarkan kepada kemajuan pendidikan, ekonomi dan teknologi. Tetapi mereka melupakan beberapa hal. Mereka tmelupakan kodrat seorang perempuan dan telah tergiur dengan instrumen-instrumen kemajuan seoerti yang telah terjadi di Eropa pada waktu itu. Mereka juga melupakan bahwa persoalan perempuan yang terjadi di Eropa berbeda jauh dengan apa yang terjadi di Islam. Di Eropa tidak mempunya manhaj Rabbani dan mengikuti hukum-hukum yang dibuat oeleh manusia, sedangkan dalam Islam mempunyai manhaj Rabbani yang harus ditaati sebagai hukum. Persoalan yang muncul antara Eropa dan Islam sangatlah jauh berbeda sehingga membutuhkan penyelesaian yang berbeda pula. Di Eropa adalah persoalan ketidakadilan perempuan dan laki-laki, sedangkan dalam Islam menyangkut persoalanm akidah. Tetapi sekalipun demikian seandainya orang Eropa mau mengakui manhaj Rabbani maka persoalan tersebut juga bisa diselesaikan melalui jalan tersebut.
Para pembeharu tersebut terdiri dari dua golongan. Pertama, adalah orang-orang yang mengerti betul perbuhan tersebut akan sangat berbahaya bagi ahalak ummat. Kedua, adalah orang-orang yang tertipu dan merasa apa yang telah dilakukan adalah benar.
Sebenarnya Islam memang mengajarkan semua umatnya untuk menuntut ilmu. Tetapi sekalipun demikian tidak boleh dilupakan bahwa syariat telah membatasi tabiat dan tugas perempuan yakni memelihara keluarga dan menjaga keturunan. Ini semua terjadi bukan karena perkembangan global, melainkan terjadi karena kelemahan akidah dan kesilauan terhadap Barat yang menganggap bahwa yang menag adalah orang yang kuat. Hendaknya peperangan ideologi tidak akan mempengaruhi iman seseorang jiak orang tersebut berjalan di atas Islam yang benar.
Sekarang perempuan yang masuk pada perguruan tinggi tidak sekedar alasan ilmu, akan tetapi untuk membebaskan diri dari moral dan tradisi. Sehingga atas dasar kebebasan perempuan menghamburkan aurat dan kehilangan rasa malu. Uneversitas yang didirikan di mesir waktu itu bukan untuk menjaga dan memelihara ahlak Islam, tetapi Uneversitas-uneversitas tersebut didirikan atas dasar kebebasan. Para pengajarpun adalah orang-orang terpilih yang sudah disetting oleh orang Yahudi untuk menghancurkan Islam. Kemudian misi tersebut semakin lancar di atas alasanuntuk mengeluarkan Mesir dari kekolotan. Beberapa fakultas sosial dan hukum didirikan yang kemudian melahirka para pakar hukum yang cerdas. Namun karena mereka telah piauai dalam hukum mereka semakin jauh dari syariat yang telah ditentukan oleh Allah. Sementara fakultas-fakultas ilmu praktis melahirkan para sarjana sains yang menganggap agama sebagai dogma karena telah menelah semua metode ilmu pengetahuan yang berasal dari Barat. Maka dari itulah Uneversias-universitas yang ada di Mesir pada waktu itu tidak hanya didirikan untuk menciptakan laki-laki yang bebes tetapi juag perempuan yang bebas.
Para missionaris memamfaatkan ketidaktahuan orang Islam dalam persoalan kedudukan perempuandalam Islam. Mereka berpendapat bahwa perempuan di dalam Islam hanya dipandang sebagai Ibu yang mengandung dan melahirkan dan melaksanakan tugas-tugas rumah dan tidak mempunyai kebebasan. Kemudian “kejumudan” tersebut dimanfaatkan untuk menyuarakan kebebasan bagi perempuan sehingga dalam hal ini persoalan perempuan dijadikan fitnah untuk menjelek-jelekkan Islam. Sehingga saat itulah Eropa meneriakkan suaranya untuk membebaskan perempuan dari agama, ahalak dan tradisi. Dari sinilah benih-benih kebebasan moral muncul. Sehingga pergaulan bebasa dan seksualitas merajalela.   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar