Rabu, 04 Desember 2013

Perempuan dan Pembangunan



Responding Paper Kelompok Tambahan
Perempuan dan Pembangunan
Siti Fatimah
Kemajuan suatu bangsa tidaklah hanya dilihat dari kesejahteraan yang diberikan Negara terhadap kaum laki-lakinya saja, tapi juga Negara harus mampu memberikan kesejahteraan pula bagi kaum perempuan. Agar terciptanya sebuah keadilan social dalam kesetaraan gender. Hal ini harus dilakukan dengan menghilangkan asumsi-asumsi usang tentang perempuan, bahwa perempuan itu bodoh karena tidak bisa memperoleh pendidikan yang sepadan dengan laki-laki. Maka dari itu peningkatan kualitas perempuan menjadi dasar untuk menciptakan pembangunan yang berkelanjutan bagi suatu bangsa. Dengan  demikian upaya untuk peningkatan kualitas perempuan dilakukan  dalam rangka menciptakan keserasian antara hak-hak asasi dan keadilan sosial bagi perempuan dan laki-laki serta alasan efesiensi ekonomi dalam pembangunan berkelanjutan[1].
Perempuan  dan pembangunan adalah pendekatan pembangunan yang ditujukan secara khusus kepada perempuan. Tujuan yang ingin dicapai adalah untuk meningkatkan kemampuan perempuan agar turut serta dalam proses pembangunan secara serasi dan selaras sehingga memungkinkan perempuan mengejar ketinggalannya dripada laki-laki. Kegiatan pembangunan dalam pendekatan perempuan dan pembangunan adalah proyek-proyek khusus perempuan yang diarahkan pada upaya pemecahan persoalan dan permasalahan perempuan.
Sayangnya dalam makalah yang dipresentasikan tidak membahas perempuan dan pembangunan di Indonesia secara lebih spesifik. Maka dari itu saya akan mencoba menggambarkan sedikit perempuan dan pembangunan di Indonesia, yan belum dipaparkan oleh para pemakalah.
a.    Pendekatan  Women In Development (WID)
Women in Development (WID) didasarkan pada teori modernisasi dan feminis liberal yang bertujuan untuk mengintegrasi wanita dalam proses pembangunan. Perspektif WID berlanjut eksistensi seiring dengan paradigma modernisasi, dimana negara berkembang mengadopsi teknologi, kelembagaan dan nilai-nilai barat. Perspektif WID menekankan persamaan kesempatan untuk wanita. liberal perspective on feminism. Untuk membentuk keberadaan wanita dalam proses pembangunan, Kebijakan berorientasi wanita diperlukan dengan ambisi untuk meningkatkan efisiensi dan kemajuan pembangunan ekonomi.
Pendekatan women in development (WID) atau peningkatan peran wanita dalam pembangunan berpijak dari dua sasaran yaitu: pentingnya prinsip egalitarian[2] dan menitikberatkan pada pengadaan program yang dapat mengurangi atau menghapuskan diskriminasi yang dialami oleh para perempuan di sektor produksi. Program-program yang dapat diterapkan untuk pelaksanaan pendekatan WID adalah yang dapat menghasilkan pendapatan bagi perempuan dan juga mendorong perempuan memasuki dunia publik. Pendekatan WID dianggap mengalami kegagalan dalam membebaskan perempuan dari diskriminasi dan ketidakadilan.
Strategi WID banyak mendapat kritik terutama dari kelompok feminis dengan menekankan tiga asumsi dasar, yaitu:
·         strategi ini diasumsikan sebagai agenda dari dunia pertama terhadap dunia ketiga
·         diasumsikan strategi ini memiliki bias kepentingan dari kelompok feminisme liberal yang diwakili oleh perempuan kulit putih yang dipandang tidak memiliki kepentingan dengan pembebasan para perempuan didunia ketiga
·         diasumsikan bahwa strategi ini lebih mengarah pada pengekangan terhadap para perempuan dan bukan merupakan upaya pembebasan.
Kritik lain yang dilancarkan untuk strategi pemberdayaan ini adalah strategi ini lebih menekankan atau fokus pada peran seseorang dan mengabaikan hubungan dan relasi social antara laki-laki dan perempuan. Sehingga strategi ini dipandang belum mampu menjamin perempuan memperoleh manfaat pembangunan. Hal inilah yang terjadi dalam pemerintahan Orde Lama, dimana perempuan belum menjadi objek utama dalam pembangun kemajuan Negara.
Women in Development (WID) yang dicitakan sebagai jawaban atas kritik pembangunan dianggap telah gagal menjalankan tugasnya, karena program ini hanya mampu menjawab persoalan dan kebutuhan praktis jangka pendek kaum perempuan. Tanpa adanya analisis gender, maka diskursus pembangunan telah gagal menjawab kebutuhan strategis kaum perempuan, yakni suatu proses jangka panjang untuk mentransformasikan baik keyakinan dan ideology ketidakadilan gender maupun struktur kekuasaan yang tidak adil yang dibangun berlandaskan keyakinan dan ideology gender.[3]
b.    Pendekatan  Women and  Development (WAD)
WAD pada awalnya adalah pandangan Neo-Marxist berpijak pada pandangan feminis yang kuat pada analisis kelas sosial dan eksploitasi di negara dunia ketiga. Pendekatan ini berkembangan pada pertengahan 1970an, karena melihat keterbatasan dari modernisasi.WAD mengambil dasar teorinya dari teori dependensiaà, dimana pada konteks global, negara-negara berkembang, semakin berkembang melalui eksploitasi negara-negara yang menjadi peripernya. Pendekatan WAD mengasumsikan bahwa perempuan sudah berpartisipasi aktif dalam pembangunan.WAD mengadvokasikan bahwa baik wanita bekerja yang dibayar ataupun tidak dibayar sama pentingnya dalam pembangunan. Berbeda dengan WID, WAD percaya bahwa dibawah kapitalisme global, penekanan terhadap perempuan tidak akan berakhir.
WAD gagal menganalisa dalam skala penuh, antara patriarki dan subordinasi perempuan. Bagi WAD, ini berimplikasi bahwa partisipasi wanita akan semakin baik jika ada perubahan dalam struktur kelembagaan. Walau mungkin dapat berlangsung, WAD telah menggiring kepada pergeseran dimana wanita semakin produktif atas dasar korbanan sisi reproduktif dari kerja dan kehidupannya. Inilah kegagalan yang terjadi dalam pemerintahan Orde Baru terhadap pembangun kemajuan kaum perempuan.

c.    Pendekatan  Gender and Development (GAD)
Gender dan pembangunan adalah pendekatan pembangunan yang mengintegrasikan aspirasi, kepentingan dan peran laki-laki dan perempuan yang memungkinkan perempuan mengejar ketinggalannya dari pria dan sebagai upaya mengubah hubungan gender yang merugikan salah satu pihak menuju hubungan gender yang selaras dan serasi[4].
Dalam  pembangunan berdasarkan pendekatan gender dicegah terjadinya kesenjangan hak, kedudukan dan kesempatan berperan anatara laki-laki dan perempuan serta sekaligus dihindari adanya upaya–upaya yang merugikan laki-laki atau perempuan. Sedangkan pelaksanaan pendekatan GAD diarahkan pada upaya pengubahan ketidakseimbangan hubungan kekuasaan antara laki-laki dan perempuan dengan memperhatikan kebutuhan dan potensi masing-masing.
Akar teori dari model GAD adalah feminisme sosialis yang melihat sektor produksi dan reproduksi sebagai basis penindasan perempuan. Artinya pembebasan perempuan tidak hanya pada sektor reproduksi (domestik), tetapi juga pada bidang-bidang produkif (publik). GAD (Gender and Development) memandang pentingnya partisipasi negara dalam menunjang emansipasi perempuan dan negara memiliki tugas untuk menyediakan jasa sosial yang selama ini disediakan oleh perempuan secara individual seperti peralatan anak dan kesehatan.
Dengan demikian pendekatan tersebut memperbaiki pendekatan sebelumnya dengan mengakui pentingnya analisis kelas, ras, gender, dan pembangunan, sebagai masalah yang harus menjadi pusat perhatian. Ini berarti mode GAD tidak hanya memperhatikan perempuan, tetapi pada kontruksi sosial gender dan pemberian peran tertentu pada perempuan dan laki-laki. Lebih jauh model ini melihat perempuan lebih sebagai agen perubahan dari perubahan sosial dan bukan hanya sebagai penerima bantuan pembangunan yang pasif. Dengan cara ini dapat dicari penyelesaian masalah bersama melalui metode-metode yang demokratif, bukan sekedar penyuluhan-penyuluhan yang bersifat top down. Transformasi sosial semacam ini hanya bisa terjadi lewat pembentukan solidaritas perempuan yang terorganisir.
Bagi strategi GAD letak persoalannya bukanlah pada kaum perempuan sebagaimana diasumsikan semula, akan tetapi pada bagaimana menghapuskan segala bentuk diskriminasi dan ketidakadilan gender. Strategi kedua ini menitikberatkan pada pemberdayaan (empowerment) dan perubahan struktur gender inilah yang dikenal dengan pendekatan Gender and Development (GAD). Dengan cara GAD, diharapkan perempuan Indonesia saat ini akan bisa meningkatkan kualitas hidup mereka masing-masing, baik kualitas pola piker, ekonomi, social dan budaya. Sehingga tidak ada lagi tindakan diskriminasi terhadap perempuan.
Hal ini juga diharapkan mampu untuk memberdayakan perempuan. Hingga dapat mencapai kemajuan bersama. Tidak hanya kaum laki-laki saja yang berperan dalam pembangunan, namun perempuan pun turut dalam pembangunan Negara.
Daftar Pustaka
Mansour Fakih, Analisi Gender dan Transformasi Sosial (Yogyakarta: Pustaka
            Pelajar, 2001)
Khofifah Indar Parawansa. Mengukir Paradigma Menembus Tradisi Pemikiran
            Tentang Keserasian Jender (Pustaka  LP3ES Indonesia: Jakarta.cetakan 1.
            2006)


[1] Khofifah Indar Parawansa. Mengukir Paradigma Menembus Tradisi Pemikiran Tentang Keserasian Jender (Pustaka  LP3ES Indonesia: Jakarta.cetakan 1. 2006), hlm.
[2] Sebuah elemen yang konsisten dalam berbagai penuturan etis Al-Qur’an
[3] Mansour Fakih, Analisi Gender dan Transformasi Sosial (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001), hlm.26
[4] Khofifah Indar Parawansa. Mengukir Paradigma Menembus Tradisi Pemikiran Tentang Keserasian Jender (Pustaka  LP3ES Indonesia: Jakarta.cetakan 1. 2006),

Tidak ada komentar:

Posting Komentar