Responding Paper Kelompok Tambahan
Perempuan dan Pembangunan
Siti Fatimah
Kemajuan suatu bangsa tidaklah hanya dilihat dari kesejahteraan
yang diberikan Negara terhadap kaum laki-lakinya saja, tapi juga Negara harus
mampu memberikan kesejahteraan pula bagi kaum perempuan. Agar terciptanya
sebuah keadilan social dalam kesetaraan gender. Hal ini harus dilakukan dengan
menghilangkan asumsi-asumsi usang tentang perempuan, bahwa perempuan itu bodoh
karena tidak bisa memperoleh pendidikan yang sepadan dengan laki-laki. Maka
dari itu peningkatan kualitas perempuan menjadi dasar untuk menciptakan
pembangunan yang berkelanjutan bagi suatu bangsa. Dengan demikian upaya untuk peningkatan kualitas
perempuan dilakukan dalam rangka
menciptakan keserasian antara hak-hak asasi dan keadilan sosial bagi perempuan
dan laki-laki serta alasan efesiensi ekonomi dalam pembangunan berkelanjutan[1].
Perempuan dan pembangunan
adalah pendekatan pembangunan yang ditujukan secara khusus kepada perempuan.
Tujuan yang ingin dicapai adalah untuk meningkatkan kemampuan perempuan agar
turut serta dalam proses pembangunan secara serasi dan selaras sehingga
memungkinkan perempuan mengejar ketinggalannya dripada laki-laki. Kegiatan
pembangunan dalam pendekatan perempuan dan pembangunan adalah proyek-proyek
khusus perempuan yang diarahkan pada upaya pemecahan persoalan dan permasalahan
perempuan.
Sayangnya dalam makalah yang dipresentasikan tidak membahas
perempuan dan pembangunan di Indonesia secara lebih spesifik. Maka dari itu
saya akan mencoba menggambarkan sedikit perempuan dan pembangunan di Indonesia,
yan belum dipaparkan oleh para pemakalah.
a.
Pendekatan Women In
Development (WID)
Women in Development (WID) didasarkan
pada teori modernisasi dan feminis
liberal yang bertujuan untuk mengintegrasi wanita dalam proses pembangunan.
Perspektif WID berlanjut eksistensi seiring dengan paradigma modernisasi,
dimana negara berkembang mengadopsi teknologi, kelembagaan dan nilai-nilai
barat. Perspektif WID menekankan persamaan kesempatan untuk wanita. liberal perspective on feminism. Untuk
membentuk keberadaan wanita dalam proses pembangunan, Kebijakan berorientasi
wanita diperlukan dengan ambisi untuk meningkatkan efisiensi dan kemajuan
pembangunan ekonomi.
Pendekatan
women in development (WID) atau peningkatan peran wanita dalam pembangunan
berpijak dari dua sasaran yaitu: pentingnya prinsip egalitarian[2] dan
menitikberatkan pada pengadaan program yang dapat mengurangi atau menghapuskan
diskriminasi yang dialami oleh para perempuan di sektor produksi.
Program-program yang dapat diterapkan untuk pelaksanaan pendekatan WID adalah
yang dapat menghasilkan pendapatan bagi perempuan dan juga mendorong perempuan
memasuki dunia publik.
Pendekatan WID dianggap mengalami kegagalan dalam membebaskan perempuan dari
diskriminasi dan ketidakadilan.
Strategi
WID banyak mendapat kritik terutama dari kelompok feminis dengan menekankan
tiga asumsi dasar, yaitu:
·
strategi
ini diasumsikan sebagai agenda dari dunia pertama terhadap dunia ketiga
·
diasumsikan
strategi ini memiliki bias kepentingan dari kelompok feminisme liberal yang
diwakili oleh perempuan kulit putih yang dipandang tidak memiliki kepentingan
dengan pembebasan para perempuan didunia ketiga
·
diasumsikan
bahwa strategi ini lebih mengarah pada pengekangan terhadap para perempuan dan
bukan merupakan upaya pembebasan.
Kritik lain yang dilancarkan untuk strategi pemberdayaan ini adalah
strategi ini lebih menekankan atau fokus pada peran seseorang dan mengabaikan
hubungan dan relasi social antara laki-laki dan perempuan. Sehingga strategi
ini dipandang belum mampu menjamin perempuan memperoleh manfaat pembangunan.
Hal inilah yang terjadi dalam pemerintahan Orde Lama, dimana perempuan belum menjadi
objek utama dalam pembangun kemajuan Negara.
Women in Development (WID) yang dicitakan sebagai jawaban atas
kritik pembangunan dianggap telah gagal menjalankan tugasnya, karena program
ini hanya mampu menjawab persoalan dan kebutuhan praktis jangka pendek kaum
perempuan. Tanpa adanya analisis gender, maka diskursus pembangunan telah gagal
menjawab kebutuhan strategis kaum perempuan, yakni suatu proses jangka panjang
untuk mentransformasikan baik keyakinan dan ideology ketidakadilan gender
maupun struktur kekuasaan yang tidak adil yang dibangun berlandaskan keyakinan
dan ideology gender.[3]
b.
Pendekatan Women and Development (WAD)
WAD
pada awalnya adalah pandangan Neo-Marxist
berpijak pada pandangan feminis yang kuat pada analisis kelas sosial dan
eksploitasi di negara dunia ketiga. Pendekatan ini berkembangan pada
pertengahan 1970an, karena melihat keterbatasan dari modernisasi.WAD mengambil
dasar teorinya dari teori dependensiaà, dimana
pada konteks global, negara-negara berkembang, semakin berkembang melalui
eksploitasi negara-negara yang menjadi peripernya. Pendekatan WAD mengasumsikan
bahwa perempuan sudah berpartisipasi aktif dalam pembangunan.WAD
mengadvokasikan bahwa baik wanita bekerja yang dibayar ataupun tidak dibayar
sama pentingnya dalam pembangunan. Berbeda dengan WID, WAD percaya bahwa
dibawah kapitalisme global, penekanan terhadap perempuan tidak akan berakhir.
WAD gagal menganalisa dalam skala penuh, antara patriarki
dan subordinasi perempuan. Bagi WAD, ini berimplikasi bahwa partisipasi wanita
akan semakin baik jika ada perubahan dalam struktur kelembagaan. Walau mungkin
dapat berlangsung, WAD telah menggiring kepada pergeseran dimana wanita semakin
produktif atas dasar korbanan sisi reproduktif dari kerja dan kehidupannya.
Inilah kegagalan yang terjadi dalam pemerintahan Orde Baru terhadap pembangun
kemajuan kaum perempuan.
c.
Pendekatan Gender and
Development (GAD)
Gender
dan pembangunan adalah pendekatan pembangunan yang mengintegrasikan aspirasi,
kepentingan dan peran laki-laki dan perempuan yang memungkinkan perempuan
mengejar ketinggalannya dari pria dan sebagai upaya mengubah hubungan gender
yang merugikan salah satu pihak menuju hubungan gender yang selaras dan serasi[4].
Dalam pembangunan berdasarkan pendekatan gender
dicegah terjadinya kesenjangan hak, kedudukan dan kesempatan berperan anatara
laki-laki dan perempuan serta sekaligus dihindari adanya upaya–upaya yang
merugikan laki-laki atau perempuan. Sedangkan pelaksanaan pendekatan GAD
diarahkan pada upaya pengubahan ketidakseimbangan hubungan kekuasaan antara
laki-laki dan perempuan dengan memperhatikan kebutuhan dan potensi
masing-masing.
Akar
teori dari model GAD adalah feminisme sosialis yang melihat sektor produksi dan
reproduksi sebagai basis penindasan perempuan. Artinya pembebasan perempuan
tidak hanya pada sektor reproduksi (domestik), tetapi juga pada bidang-bidang
produkif (publik). GAD
(Gender and Development) memandang pentingnya partisipasi negara dalam
menunjang emansipasi perempuan dan negara memiliki tugas untuk menyediakan jasa
sosial yang selama ini disediakan oleh perempuan secara individual seperti
peralatan anak dan kesehatan.
Dengan
demikian pendekatan tersebut memperbaiki pendekatan sebelumnya dengan mengakui
pentingnya analisis kelas, ras, gender, dan pembangunan, sebagai masalah yang
harus menjadi pusat perhatian. Ini
berarti mode GAD tidak hanya memperhatikan perempuan, tetapi pada kontruksi
sosial gender dan pemberian peran tertentu pada perempuan dan laki-laki. Lebih
jauh model ini melihat perempuan lebih sebagai agen perubahan dari perubahan
sosial dan bukan hanya sebagai penerima bantuan pembangunan yang pasif. Dengan
cara ini dapat dicari penyelesaian masalah bersama melalui metode-metode yang
demokratif, bukan sekedar penyuluhan-penyuluhan yang bersifat top down. Transformasi
sosial semacam ini hanya bisa terjadi lewat pembentukan solidaritas perempuan
yang terorganisir.
Bagi
strategi GAD letak
persoalannya bukanlah pada kaum perempuan sebagaimana diasumsikan semula, akan
tetapi pada bagaimana menghapuskan segala bentuk diskriminasi dan ketidakadilan
gender. Strategi kedua ini menitikberatkan pada pemberdayaan (empowerment)
dan perubahan struktur gender inilah yang dikenal dengan pendekatan Gender
and Development (GAD). Dengan cara GAD, diharapkan perempuan Indonesia
saat ini akan bisa meningkatkan kualitas hidup mereka masing-masing, baik
kualitas pola piker, ekonomi, social dan budaya. Sehingga tidak ada lagi
tindakan diskriminasi terhadap perempuan.
Hal
ini juga diharapkan mampu untuk memberdayakan perempuan. Hingga dapat mencapai
kemajuan bersama. Tidak hanya kaum laki-laki saja yang berperan dalam
pembangunan, namun perempuan pun turut dalam pembangunan Negara.
Daftar Pustaka
Mansour Fakih, Analisi Gender dan
Transformasi Sosial (Yogyakarta: Pustaka
Pelajar,
2001)
Khofifah Indar Parawansa. Mengukir
Paradigma Menembus Tradisi Pemikiran
Tentang Keserasian Jender (Pustaka LP3ES Indonesia: Jakarta.cetakan 1.
2006)
[1] Khofifah Indar Parawansa. Mengukir Paradigma Menembus Tradisi Pemikiran
Tentang Keserasian Jender (Pustaka LP3ES Indonesia: Jakarta.cetakan 1. 2006), hlm.
[2] Sebuah elemen yang konsisten dalam berbagai penuturan etis Al-Qur’an
[3] Mansour Fakih, Analisi
Gender dan Transformasi Sosial (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001), hlm.26
[4] Khofifah Indar Parawansa. Mengukir Paradigma Menembus Tradisi Pemikiran
Tentang Keserasian Jender (Pustaka LP3ES Indonesia:
Jakarta.cetakan 1. 2006),
Tidak ada komentar:
Posting Komentar